Showing posts with label Karya Sastra. Show all posts
Showing posts with label Karya Sastra. Show all posts

Saturday, May 8, 2021

Review Masalah/Konflik yang terdapat dalam Film “The Good Doctor” dan Langkah-Langkah Penyelesaiannya

Masalah 1

Sejak serial  pertama dari film "The Good Doctor" ini, Dr Shaun sebagai tokoh utama diperkenalkan sebagai seorang autis yang memiliki Savant syndrome. Seperti autis pada umumnya Dr Shaun tidak dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik.  Hal ini terutama menjadi masalah di saat profesinya adalah sebagai dokter. Keseharian seorang dokter sangat tergantung akan hubungan sosialnya dengan berbagai golongan masyarakat. Masalah yang paling menonjol dari aspek ini adalah kurang diterimanya keberadaan Dr Shaun oleh teman sejawatnya.

Dr Glassman didiagnosis mengidap glioma, sehingga hanya memiliki angka harapan hidup hanya sekitar 12-18 bulan,  padahal saat tersebut Dr Shaun baru saja berusaha memperbaiki hubungan mereka.  Dr Shaun terguncang dengan kenyataan tersebut.

Penyelesaian:

Dr Shaun dengan pengetahuan yang ia miliki,  berusaha mencari tahu kebenaran dari penyakit Dr Glassman. Dr Shaun tidak memercayai hal tersebut,  dan meminta Dr Glassman untuk meminta second opinion dari dokter lain. Pada awalnya Dr Glassman menolak,  namun akhirnya ia meminta second opinion (yang ternyata hasilnya sama dengan diagnosis sebelumnya).  Dr Shaun bersikeras bahwa second opinion tersebut tidak benar dan berusaha sekali lagi meyakinkan Dr Glassman dengan memintanya melakukan pemeriksaan penunjang tambahan.  Dr Glassman segera menolak,  akan tetapi kemudian ia melakukan saran tersebut,  dan kecurigaan Dr Shaun ternyata benar.

Masalah 2

Rumah Sakit tempat Dr Shaun bekerja menerima seorang pasien yang mengharuskan tim medis di RS tersebut harus melakukan tindakan invasif, akan tetapi karena Dr Shaun melamun (terbawa emosi pribadi), Dr Shaun lalai sehingga merugikan pasien tersebut.  Pasien tersebut mengalami komplikasi berupa pseudoaneurysm yang mengancam nyawa.

Penyelesaian:

Adanya komplikasi tersebut membuat tim medis kebingungan,  mengingat sanksi yang akan diterima jika terdapat kelalaian saat operasi.  Dr Jared sempat ingin mengakui hal itu sebagai kesalahannya,  namun dicegah oleh rekan medis yang lain karena akan sangat mengancam pekerjaannya.  Saat itulah Dr Shaun sadar bahwa itu adalah kesalahannya dan mengakui hal tersebut di depan rekan timnya. Dr Shaun dapat dilaporkan karena kelalaiannya dan kehilangan pekerjaan,  namun hal itu tidak dilakukan karenda Dr Shaun mempunyai cara untuk mengatasi kesalahannya.  Dengan besar hati teman satu tim Dr Shaun mengikuti saran tersebut (walaupun sebenarnya mereka belum cukup percaya),  akan tetapi kebesaran hati mereka dapat menyebabkan kembalinya kondisi pasien ke keadaan semula.

Sunday, May 2, 2021

Contoh Esai Kamu Perempuan, Kamu Punya Peran

 Kamu Perempuan, Kamu Punya Peran

          Dahulu kala, di saat gagasan emansipasi wanita belum berkembang, para perempuan Indonesia, bahkan global, harus duduk termangun meratapi nasib terlahir sebagai perempuan. Terbebas dari filosofi wanita sebagai sosok luar biasa, tetap saja pada waktu itu, pandangan terhadap mereka masih terlalu sempit untuk menampung minat dan potensinya. Mungkin saja peranan wanita mengurus suami dan anak serta  melakukan pekerjaan rumah masih eksis sampai saat ini. Namun bagaimana dengan aturan lain yang mengekang mereka? Sebagai contoh, perempuan zaman lampau tidak diperbolehkan bersekolah bahkan keluar rumah. Di samping itu, mereka tidak diperbolehkan mempertanyakan keputusan suami dan harus menuruti perkataan suami apapun alasannya. Apakah hal seperti itu masih ada sampai saat ini? Jawabannya “iya”, namun tetap saja hak-hak wanita pada saat itu sangat terbatas.

          Bersyukurlah pada saat ini setiap orang mengenal emansipasi wanita, dua kata yang menggambarkan adanya kesetaraan kedudukan antara perempuan dan laki-laki, serta menunjukkan adanya kebebasan perempuan dalam menentukan keinginan dan mengembangkan bakatnya sendiri. Tidak heran dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menemukan perempuan dengan berbagai posisi, mulai dari yang hanya ibu rumah tangga, pedagang, guru, polisi, dokter sampai presiden. Semuanya merupakan suatu kemajuan pesat dari perjuangan leluhur kita dalam menyuarakan keberadaan perempuan.

          Seiring berjalannya waktu, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang signifikan serta dalam waktu yang bersamaan memfasilitasi para perempuan untuk menjadi apa yang ada dalam angan mereka. Namun tantangan yang harus mereka hadapi pun semakin berat. Hal ini membawa sebagian besar perempuan zaman sekarang dalam suatu dilema antara melanjutkan cita atau pasrah pada nasib yang membawa mereka pada peran alamiah mereka.

          Jika kamu adalah salah satu perempuan dalam dilema, ketahuilah bahwa di dunia ini kehidupanmu punya arti. Percaya pada dirimu sendiri bahwa kehadiranmu membawa perubahan pada lingkungan keluarga, masyarakat, negara maupun dunia. Tidak perlu menjadi seperti Cut Nyak Dhien yang berjuang melawan penjajah dalam Perang Aceh. Tidak perlu menjadi seperti Susi Susanti yang meraih medali emas bulu tangkis putri. Tidak perlu menjadi seperti Ainun Habibie, seorang ibu negara sekaligus istri Presiden RI ke-tiga, B. J. Habibie. Jadilah dirimu sendiri, ambillah peran yang seharusnya disandingkan dengan namamu, ambil jalan pintas mu. Katakanlah pada saat ini, engkau adalah seorang pelajar, maka lakukan tugas sebagai pelajar dengan baik. Jika kau adalah seorang pedagang, guru, polisi atau dokter maka lakukan sesuai kemampuanmu. Bahkan jika kau hanyalah seorang ibu rumah tangga, engkau bisa mendidik seorang pewaris masa depan. Semua perempuan memiliki peran dan setiap peran butuh perempuan untuk menjalankan skenarionya. Kamu perempuan, kamu punya peran.

           

Friday, December 5, 2014

Cerpen: Mawar Terakhir



Mawar Terakhir

Ninda Wiryanti


Rambutnya terurai bak tirai gemerlap yang tertimpa sinar lemah sang Mentari. Matanya menerawang jauh. Sejauh mata sanggup menembus rahasia kehidupan. Hatinya seperti gersang di ladang, tak sanggup menumbuhkan benih-benih pengharapan. Tubuhnya kaku, sekaku darah dalam daging yang membeku.
Daun-daun telah berjatuhan dari tangkainya yang kering. Rumput-rumput enggan bergoyang. Beringin dengan akar gantung yang menghujam, sudah tak sanggup menelan air. Jejeran nisan yang rapi, butiran tanah merah yang menggunung, hamparan kamboja yang layu, tak mampu lagi menahan gelar pemakaman untuk tempat itu. Jauh di ufuk barat, jajaran pegunungan terlihat jelas, burung-burung terbang menjauh. Langit mulai menguning. Mentari merangkak turun dari pangkuan hari. Bintang pertama sudah menggantung.
Sosok itu duduk termenung di sebuah bangku panjang yang rapuh. Samar-samar di temaram senja, ia tak berkedip. Teringat peristiwa tujuh hari lalu...
***
Isak tangis keluarga menghiasi pemakaman sore itu. Kerumunan berbaju hitam tak kunjung berkurang. Semua insan terlihat bersedih. Pasang mata yang berbinar enggan menahan gelinang air mata perpisahan. Gemulai taburan bunga tertiup angin hampa, hadiah terakhir untuk sang mendiang.
Ia mencengkram tanah dengan kuat. Tak rela jika nyawa mesti lepas dari raga. Pipinya yang basah menuntut jiwa yang kekal. Hasrat yang menggores sampai ke dalam hati, kini menghantui.
Ia menggenggam tanah merah sambil terisak. Berharap seberkas cahaya ilahi menghampiri. Tak peduli harapnya terlalu besar, tak peduli inginnya terlalu kasar. Hati yang masih selembut salju, tak ingin hidup sendiri.
Umurnya baru enam tahun saat ibunya pergi ke dunia seberang. Usia yang sangat rapuh bagi anak kecil yang hanya bisa bermain. Ayahnya yang dicerai mati hanya bisa menahan beban. Ia yang menemani anak kecil itu hingga ia dapat menggores pena pada kertas tipis seputih salju. Ia yang membimbing anak kecil itu hingga ia dapat membedakan arti sesal dan bahagia. Ia yang menuntun anak kecil itu sampai ia dewasa. Hingga ia mengetahui, siapa jati dirinya yang sebenarnya.
Kini, setelah anak kecil itu dewasa. Ia harus menerjang badai yang menggila. Ia harus berjalan terseret-seret tanpa arah dan tujuan. Ia tak tau kepada siapa ia akan bertanya. Hidup memang pahit, sepahit buah  mahuni yang baru jatuh dari pohonnya. Ia memang tak rela jika Tuhan mengubah nasibnya begitu cepat, ia tak ingin jalan titiannya menjadi curam. Bak mencari kutu dalam ijuk, semuanya menjadi mustahil.
Ayah... Engkau adalah satu-satunya permata dalam hati kecilku.”
Air matanya semakin mengucur deras.Pria yang ia tangisi, pria yang ia sesali, pria yang sekarang terkubur dalam-dalam, adalah ayahnya. Ia adalah satu-satunya orang yang berarti dalam catatan sejarahnya. Ia adalah satu-satunya orang yang mengerti siapa dirinya.
Isaknya kembali terdengar. Ia menggenggam bunga-bunga kematian itu dengan lembut, membiarkan goresan kenangan terukir di dalamnya. Ia tak sanggup memandang tambahan gelar di atas nisan ayahnya, kumpulan abjad yang memberitakan sesuatu, ‘Almarhum’
Ayah, engkau telah memberiku nama yang indah..” ia tersenyum, senyum yang untuk pertama kalinya membuat dunia gembira, pipinya merona, “Nah, sekarang nama ayah sudah bertambah, nama ayah sekarang Al-,” ucapannya terhenti, ia kembali terisak, tangisnya berlanjut. Air mata yang kering, sekarang tak terbendung. Ia menundukkan kepala mencoba menghapus tiap-tiap kilasan raut wajah ayahnya yang bersinar. Tapi tetap, ia tidak akan bisa.
“Mikayla sayang, sudah..”tiba-tiba sepasang tangan lembut mengelus rambutnya yang terurai, “Ayah tidak mau melihatmu bersedih seperti ini.. Biarkan ayahmu tenang, biarkan ayahmu tersenyum, ndoro..” bisik suara lemah yang tak lain adalah bibi Mikayla, satu-satunya saudara ibu Mikayla yang masih hidup.
Ayla terdiam, pikirannya sangat kacau, otaknya telah lemah, tubuhnya sudah lelah. Ia tak mampu mengakatakan apapun, walau hanya dengan gumaman.
Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya terengkuh. Sepasang tangan kasar dan keras telah menariknya ke belakang. Dadanya tersentak, hati kecilnya terlonjak, ia terhempas pada tanah yang basah, suara keras mendengung di telinganya yang peka.
 “Ayahmu tak ingin ditangisi, Ayla. Kita hanya bisa berdoa.” ucap pamannya dengan nada tegas.
Mikayla tertunduk, ia merasa bersalah. Setidaknya ucapan pamannya memang benar. Ia seharusnya berdoa, bukan menangis hingga air matanya berganti dengan darah. Seolah-olah baru tersadar, ia berbalik. Ia melihat pamannya dengan wajah geram memberikan isyarat untuk pulang. Ia menahan sedikit demi sedikit isaknya, lalu beranjak. Pemakaman umum benar-benar sudah sepi. Kerumunan berbaju hitam sejak tadi sudah surut. Tanah merah yang basah sudah mulai kering. Ia menyusuri rumput-rumput kering itu dengan langkahnya yang layu, mengikuti tiap jejak paman dan bibinya yang berbekas, syarafnya menggeram, ia  berjanji tak akan menjalani sisa hari ini dengan sungguh-sungguh.
***


Dua hari berikutnya, Mikayla selalu pergi ke pemakaman ayahnya. Ia tak pernah lupa untuk menjenguk ayah di kediaman terakhirnya. Setiap pagi dan sore, di saat mentari menyapa dengan sinarnya yang hangat dan di saat senja menyongsongnya dengan berkas-berkas sinar jingga. Ia menaburkan bunga-bunga segar, memercikkan air yang berkilauan, dan membawakan doa-doa yang beralamatkan langsung ke mana ayahnya berada.
“Ayah... Ayah jangan pernah merasa kesepian.. Mikayla akan selalu ada di sini, Mikayla kemari dua kali. Jangan takut ayah, pagi akan segera menjelang, lewati hari ini dengan tenang” Mikayla kembali menangis, tangisnya dalam kegelapan tak terdengar. Hari hampir malam, ia masih di sana. Burung hantu bermata lebar ber-uhu-uhu lemah, kelelawar menyelinap dari dedaunan. Bintang dan bulan mulai memperlihatkan terangnya.
***
Sore itu, pada hari ketiga setelah pemakaman, di saat angin dingin bertiup pada ubun-ubun, saat bayang-bayang menjadi semakin panjang, saat sinar-sinar tak kembali memantul. Berdua bersama siluet dirinya yang keabuan. Mikayla kembali mengunjungi makam itu. Aroma tanah yang kering, dan nisan yang berlumut, tak akan pernah bisa membuat jiwanya ciut. Mikayla, anak tunggal yang ditinggal sendiri, sekarang berdiri, menaburkan bunga-bunga beraroma sayu, bersisakan tangkai pengharapan, lemas dan lunglai terkena tanah merah yang lembap. Matanya berair, pipinya basah. Raut duka ayah harus ditanggungnya sendiri. Haruskah terfikir olehnya, dengan mukjizat sang ilahi, ayahnya akan hidup kembali. Ia duduk bersimpuh, di samping makam ayahnya yang semakin rendah tererosi air dan udara dingin yang bertiup lemah. Ia menunduk, merenung sejenak. Bulir air mata kesedihan yang mendalam menetes pada pakaiannya yang kering, tak sempat mengalir namun terserap.
Ya Tuhan.. Ampuni dosa ayahku, dan dosa ibuku. Jangan salahkan dia karena dia tak sempat temani aku, sehingga aku benar-benar mampu jalani hidup. Jangan salahkan dia karena membiarkan aku menangis. Biarkan karangan bunga ini hidup sebagai jelmaan balas budiku padanya.. Demi dunia, aku tak akan pernah bisa membalasnya...”
Ia kembali terisak, air mata yang bergulir setiap kata yang diucapkannya adalah emosi yang menusuk. Tangis yang tak terbendung membuat mata ini menjadi samar. Diri ini tak mampu menahan rasa untuk jangka waktu yang lama. Mikayla memutuskan untuk kembali, tinggal di tempat yang hangat tanpa ayah. Di mana pun ia berada ia akan tetap sengsara, pikirnya. Ia beranjak, mengambil keranjang bunga yang kosong,  dan mengusap kedua matanya yang bengkak. Ia melihat setangkai mawar putih yang disampul rapi tergeletak begitu saja di atas makam ayahnya. Tak terlihat olehnya, tak pula ia sadari sejak tadi. Ia memungutnya dengan sebelah tangan, mengamatinya dengan rasa penasaran yang menggebu.
Untuk Mikayla
Ia membaca tulisan pada secarik kertas kecil yang menggantung kaku pada mawar itu. Angannya melayang, jiwa dan akal seakan tidak percaya. Ia kembali memandang tulisan tangan rapi yang tertera di sana, masih sama. Mikayla kebingungan, ia merasa takut, pikiran negatif menghantui benaknya. Harapan dari hati kecilnya terasa ganjal. Benarkah mawar ini adalah titipan ayahnya yang sedang berada di alam sana? Akankah mawar ini berasal dari hantu yang ingin mengelabuhinya? Akankah mawar ini berasal dari ayahnya? Akankan tulisan ini tulisan ayahnya? Benarkah mawar ini dari ayahnya yang tercinta? Ia tersenyum, ia mencoba mempertahankan harapan dalam dari hati kecilnya. Ia membiarkan pertanyaan itu menyerbu walau terasa sangat berbeda. Ia melangkah, membiarkan mawar putih yang tersampul rapi itu erat dalam pelukannya. Hasrat telah merelakan Mikayla untuk mengingat aroma mawar putih sebagai anugerah ayahnya. Isaknya satu dua kali masih terdengar. Harapan kecil yang menjadi nyata, kini akan menjadi satu-satunya hal untuk ditangisi di dunia.
Tiga hari berikutnya, setiap ia berkunjung ke makam, ia selalu mendapati mawar putih yang sama tergeletak dihadapannya. Mawar dengan aroma yang sama, rasa yang sama, dan perasaan yang sama saat dia mengenang ayahnya. Mawar itu adalah satu-satunya alasan ia menanti. Menanti setiap detik waktu berjalan, setiap detik waktu terlewat, setiap detik waktu tersisa untuk menuju hari berikutnya. Mawar putih itu meyakinkan Mikayla, bahwa setiap penantian panjang dalam hidupnya, tak akan pernah sia-sia. Mawar putih itu juga meyakinkan batin Mikayla, bahwa ayahnya memang mengerti suasana hatinya.
Beberapa saat kemudian, Mikayla termenung. Ia duduk di sebuah bangku panjang yang rapuh dan berdebu tak jauh dari makam ayahnya. Ia mengingat kembali langkah-langkah yang telah diambil minggu-minggu ini, langkah yang mantap  ia pijaki, langkah yang terpaksa ia lalui, dan langkah dalam diam. Ia masih memegangi mawar ketiga yang didapatkannya. Diletakkannya mawar itu disampingnya, lalu ia terpikir. Tak seharusnya dia menggunakan imajinasinya terlalu banyak, logika-nya terbuka. Mustahil jika arwah ayahnya yang meletakkan mawar putih itu untuknya. Hanya manusia dan makhluk hidup-lah yang nyata, sementara ayahnya bukan hal yang nyata lagi. Mikayla juga tak dapat menangkap tanda-tanda pengunjung lain selain dirinya. Hal itu tidak memungkinkan ia dapat mengetahui pengirim mawar itu dengan segera, lalu ia pun bertanya pada penjaga makam.
“Hhmm, bang. Abang pernah tidak lihat orang lain selain saya yang-eh-anu..” isaknya terdengar, ia mencoba untuk tidak terlihat menangis. Ia menunduk, mengambil nafas panjang, dan memulai kalimatnya dengan kalimat bernada rendah, “orang selain saya yang mengunjungi makam ayah saya?” Mikayla merasa sedikit aneh menyebut kata ‘ayah’, sepertinya trauma yang mendalam masih menyelimuti dirinya.
“Makam yang mana neng?” tanya penjaga makam itu penasaran
“Yang itu..” tunjuk Mikayla tanpa ragu, ia menunduk sedikit, takut matanya yang lembam terlihat oleh penjaga makam itu.
“Oh, itu neng.. Setau saya Cuma neng sendiri yang sering ke sini..” balas penjaga kuburan itu dengan sopan. Ia tersenyum kemudian memperhatikan Mikayla yang mulai bertingkah aneh.
“Beneran bang?” tanya Mikayla tak percaya, hati kecilnya merasa kegirangan
“Iya, saya sering keliling di sekitar sini kok neng, abang yakin”
“Terimakasih bang kalau begitu” Mikayla menjawab dengan sopan. Ia tersenyum, matanya berkaca-kaca, senyumannya yang manis sangat sesuai dengan pipnya yang merah merona. Hanya saja pipinya yang basah menandakan seharusnya ia tak bersedih.
Dalam perjalanan pulang, Mikayla selalu dibayang-bayangi oleh kehadiran mawar putih itu. Siapa gerangan yang sudi mengirim sekuntum bunga mawar kepada anak yatim piatu yang tak terpandang ini? Siapa pula yang tak menuliskan nama hingga merasa dirinya tak perlu diketahui?
Setibanya di depan gerbang rumah, pikiran Mikayla terhenti. Mengapa ia tak membalas budi kepada sang pengirim. Mengapa ia harus pikir panjang, sementara pengirim bunga mawar pastilah berkunjung ke makam ayahnya, meletakkan bunga itu di sana, lalu menghilang. Itu jawabannya. Ia harus ke makam itu lebih awal.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia pergi ke makam. Ia menggenggam senter di tangannya dan mengarahkan cahaya ke jalanan setapak pekuburan itu. Tak ada rasa takut, rasa  itu  telah diselimuti oleh rasa penasaran yang menggebu. Ia berjalan menuju makam ayahnya, berhasil, belum ada bunga mawar di sana. Fakta bahwa belum satu orang pun yang menginjakkan kaki di makam sepagi itu. Agar tidak membatalkan niat sang pengirim mawar, Mikayla duduk di kursi panjang, tak jauh dari makam ayahnya. Sambil menunggu, ia mengeluarkan mawar ungu dari dalam tasnya dan sepucuk surat untuk sang pengirim. Sambil tersenyum, ia terus menunggu. Fajar pun terbit, ia masih menunggu.
Mentari bergerak dengan cepat, hari sudah hampir sore. Berkali-kali ia melihat ke makam ayahnya, ke sekitar, tapi hasilnya nihil. Sudah putuslah harapan Mikayla, si pengirin tak kunjung datang, mawar di pangkuannya sudah mulai layu, semangatnya telah pudar.
Tiba-tiba saja terdengar suara tapak kaki yang semakin lama semakin dekat, semakin jelas, suara yang untuk pertama kalinya membuat Mikayla takut. Semakin dekat.. semakin dekat... Gerombolan berbaju hitam pun terlihat, di arak-arakan depan terlihat enam orang sedang menggotong keranda ke arahnya, Mikayla menepi, memberi ruang untuk mereka. Ada rasa khawatir dalam benaknya. Setiap detak jantungnya diiringi kilasan rasa ketakutan. Ia melihat lebih dekat, mengikuti tiap langkah mereka berjalan. Suara alas kaki yang tergesa-gesa, bergesekan dengan rumput keras yang kering menghasilkan melodi alam yang indah. Mereka hanya orang biasa, kekhawatiran Mikayla meredup. Ia mengikuti kemana arah gerombolan ini berjalan.
Gerombolan berbaju hitam itu berhenti di sebuah pemakaman yang tak asing bagi Mikayla, makam ayahnya. Sedari tadi ternyata Mikayla tidak memperhatikan, ternyata ada sebuah lubang persegi panjang terletak di sebelah makam ayahnya. Rasa keingintahuannya membara, dengan sabar dan hati-hati, ia terus mengikuti proses pemakaman yang berlangsung.
Tak lama kemudian, kerumunan mulai bubar. Tak ada satu pun dari mereka yang terisak, menangis. Sepertinya dia adalah orang yang tidak diharapkan, orang ini. Sampai akhirnya, hanya Mikayla-lah yang tersisa. Ia mendekat, mencoba menggapai batu nisan indah yang masih rapuh di makam baru itu. Ia ingin mengenali sosok yang terkubur dalam gundukan tanah merah kering. Ia tercengang, di atas batu nisan itu tertulis.
Di sini terukir kata hati
Dari sang pengirim Mawar Putih
untuk
     Mikayla tersayang
Tetaplah tersenyum di saat hidup
 mencabikmu dengan keras 
Aroma mawar putih yang sama
Rasa yang sama
Tangan menulis di atas kertas seputih salju

Mikayla tertegun, ia membaca tulisan di atas nisan itu berkali-kali. Ia merasa kesal pada dirinya, kepalanya panas, ia tak dapat mencerna kalimat yang terukir yang di sana. Yang ia tahu hanya namanya terukir indah di sana, apakah ia yang dimaksud, apakah ada orang lain di sekitar sini yang bernama sama dengannya.
Sepasang tangan kaku mengelus pundaknya. Suara parau yang pernah dikenalnya berkata dengan lirih, “Dia Susanto, kakakmu sendiri Mikayla, ia tak sempat bertemu kamu karena ayahmu. Ayahmu tak pernah mengizinkan Susanto tinggal dengan mu,” sosok itu duduk, ia menatap Mikayla dengan tatapan yang berbeda, tatapan yang untuk pertama kalinya membuat Mikayla merasa sejuk. Ia adalah penjaga kuburan yang pernah Mikayla temui, “ia tak pernah mengakui Susanto sebagai anaknya. Susanto memang bukan anaknya, tapi Susanto adalah saudara tirimu, Mikayla. Ayahmu tidak menerimanya karena ia berbeda, Susanto terkena leukimia-“ penjaga kuburan itu terisak “-saya yang merawatnya setelah ibumu meninggal”
“Lalu kenapa anda berbohong?” Mikayla mulai lagi, emosinya memuncak. Amarahnya membara, “Kenapa anda berbohong pada saya saat saya menanyakan anda yang sebenarnya? Apa yang terjadi?” nada bicara Mikayla meninggi ia tak habis pikir semuanya akan jadi begini.
“Dengar, Mikayla. Saya tidak bermaksud membohongi kamu. Itu semua keinginan Susanto, apa yang saya lakukan adalah pilihan. Dan pilihan itu adalah permintaan Susanto yang terakhir, maaf Mikayla, saya tidak bermaksud untuk melakukan itu” intonasi bicaranya menjadi penuh sesal, matanya berair, “ia menitipkanmu ini” penjaga kuburan itu menyerahkan sepucuk surat dan sekuntum bunga mawar putih.
Mikayla membacanya, tangisnya meledak. Orang ini adalah kakaknya. Tulisan  di atas nisan ini untuknya. Dan mawar ini adalah mawar terakhir yang dapat diberikan kakaknya, untuknya.
***

Cerpen: Penggemar Rahasia



Penggemar Rahasia
Ninda Wiryanti







            “Ma, sebentar lagi aku ulang tahun. Bisa nggak kita sekeluarga pergi ke pantai?” ucapku satu minggu sebelum 9 Agustus, hari kelahiranku.



            Mama hanya terdiam, ia masih sibuk membereskan perabotan di dapur. “Mungkin aja—“ katanya santai, “Kalau kita punya uang lebih, mungkin bisa”



            Yah, seperti itulah jawaban Mama ketika aku menanyakan acara ulang tahunku. Sejak bulan lalu aku sudah rajin menanyakannya. Aku tak heran ia bosan. Tetapi ia selalu mengatakan hal yang sama, hal yang membuat aku hampir putus asa, tentu saja, sudah menjadi kemungkinan besar bahwa dia tidak akan punya uang pada hari itu, yang artinya tidak ada perayaan untuk ulang tahunku yang akan berlalu sia-sia.



            Aku kembali ke kamar, duduk di tempat tidur, dan menghela nafas dengan berat. Aku masih mengenakan seragam putih biru dan belum berniat melepaskannya. “Padahal aku pingin sekali ulang tahunku dirayakan, dari dulu tidak pernah,” gerutu ku dalam hati. Memang benar, hampir semasa hidupku aku tak pernah mendapatkan pesta ulang tahun. Pada saat SD, aku hanya bisa tersenyum sedikit saat menghadiri acara ulang tahun teman-temanku, aku iri, mereka dapat kado, dapat kue, dinyanyikan lagu ulang tahun oleh teman-temannya, dan banyak lagi, sedangkan aku, aku hanya bisa menggaruk-garuk kepala dalam suasana yang menggembirakan itu.



            Aku bangun dan melihat ke arah jam dinding yang tak henti berdetak, kecuali kalau baterainya habis. Aku masih membayangkan bagaimana aku yang dulu hingga sekarang masih memimpikan acara ulang tahun yang berkesan. Sayangnya setiap kali aku melakukannya, aku selalu mendapatkan mimpi yang buruk-buruk.



            Aku berbaring lagi, emosi ku sudah mencapai puncaknya, bagaimana bisa hidupku  berjalan sangat tragis dan dramatis. Padahal seharusnya nasib baik berpihak padaku, seorang gadis muda yang cantik, baik hati, rajin menabung, tidak sombong, dan berprestasi dalam segala bidang, terutama dalam menyontek jawaban teman.



            Pikiran-pikiran miring itu terus menyelubungi otakku, hingga akhirnya aku dapat tertidur pulas. Tetapi aku masih tidak yakin penyakit dengkur badak ku tidak kambuh. Biasanya kalau penyakit kronis ku itu kambuh, dengkur ku bisa saja terdengar seperti adzan maghrib dari masjid desa sebelah, dan aku tidak heran kalau orang-orang sekitar segera berbuka puasa.



***



            Keesokan harinya, aku menjalankan rutinitasku seperti biasa, termasuk aktivitas menggoda mama, tapi mama hanya terdiam, ia mengacuhkanku seolah-olah aku hanya seekor nyamuk DBD yang anemia. Pada akhirnya, aku akan masuk kamar dan membanting pintu dengan pelan, takut ada yang mendengar.



            Malam pun tiba, aku keluar dari kamar dan melihat papa yang baru pulang kerja. Ia duduk di sofa dan meletakkan tas kantornya di sebelah kaki. Mama langsung datang dengan membawa secangkir teh hangat. Aku masih di ambang pintu, memperhatikan papa, dia masih dengan asyiknya duduk di sofa sambil menonton TV. Aku berbalik, tadinya aku berfikir untuk menggoda papa, biasa, mengenai ulang tahun itu. Tapi sayangnya, aku tiba-tiba ingat peristiwa beberapa hari lalu, aku diceramahi dua jam berturut-turut oleh papa, gara-gara aku minta ulang tahunku dirayakan. Dia bilang pesta ulang tahun hanya bisa menghambur-hamburkan uang dan tidak ada maknanya. Maklum saja, papa ku dulu pernah menjadi ustadz di pesantren,



            Aku melangkah ke luar kamar dan duduk di dekat Papa. Papa pasti menonton berita, dugaan ku benar. Setidaknya ini lebih baik dari pada harus duduk di depan meja belajar sambil mengerjakan PR.



***



            Hari-hari berjalan dengan sangat cepat, tak terasa 9 Agustus sudah tiba. Aku masih tidak mendapatkan apa-apa, dan tak satu pun keluargaku yang peduli. Tadi pagi sewaktu sarapan, aku bahkan kena marah kakak.



            “Eh, kamu apain hape kakak kemarin?!” bentak kakak ku dengan keras, ia mengacungkan telefon genggamnya padaku, matanya melotot.



            “Ng-nggak ada apa-apa,” ucapku kaget, aku berusaha meyakinkan, “kemarin aku cuma main fesbuk aja kok,” jawabku kesal, “pagi-pagi sudah marah.”



            “Nah, terus kenapa LCD-nya sampe bisa rusak?! Kamu apain kemarin?” kakak ku membentak dengan getir, ia melempar handphone-nya ke pangkuanku. Papa dan Mama pun datang, ia berusaha melerai kami.



            “Kenapa aku yang disalahin?! Coba aja pikir sendiri,” aku beranjak, membiarkan handphone itu jatuh dari pangkuanku. Aku kemudian mengambil tas dan berangkat sekolah tanpa pamit.



            Di sekolah, aku kena marah oleh hampir semua guru. Tak ada satu pun PR dan tugas yang sudah ku kerjakan. Tadi pagi aku tidak sempat menyontek karena hatiku sedang kacau. Teman-teman pun tak ada yang berani mendekatiku karena aku  sangat mudah marah.



            “Yang belum jadi PR maju!” gelegar suara pak Ahmad, guru yang paling terkenal akan keganasannya. Kalimat itu diulanginya beberapa kali sambil memukul-mukulkan pernggaris kayu 1 meter itu ke tangannya sendiri.



            Aku lalu melangkah ke depan kelas, tubuhku gemetar, anganku ciut. Tiba di depan kelas, aku hanya bisa menunduk, tak berani melihat satu pun wajah-wajah teman sekelasku yang khawatir.



            “Inilah tampang-tampang anak yang sombong, tidak mau diajar—“ terang pak Ahmad dengan tegas, aku tak berani berkutik, jantungku berdegup dengan kencang.



            Untung saja aku tidak sendiri, ada dua teman laki-laki yang juga berdiri di sebelah kiri ku. Mereka juga tak kalah takutnya, mereka memalingkan pandangan keluar jendela, berusaha untuk tidak mendengar, aku mengikutinya.



            Tak ada satu pun yang lebih mengerikan dari pada peristiwa itu. Tetapi aku cukup sedih, mengingat kesialan yang jatuh pada hari ulang tahunku. Dimarahi guru, dijauhi teman, kelaparan, dan sepulang sekolah, aku terkurung seorang diri di kamar, belum bisa melepas kesalku. Aku pun tertidur dengan seragam masih melekat dan lampu yang menyala terang.



***



            Keesokannya aku bangun lebih cepat dari biasanya, pagi-pagi sekali aku sudah buru-buru mandi, saking buru-buru-nya aku hampir kepeleset di kamar mandi.



            “Ooh..! Dasar sabun-sabun,” gagap ku sambil mencengkram dinding kamar mandi dengan kuat, “Kalau aku sampe nyungsep di sini, aku pasti bakal kejang-kejang di UGD”



            Segera aku  bersiap-siap, berpakaian, memasukkan buku ke dalam tas, dan sempat-sempatnya aku menjambret roti dari atas meja makan. Setelah itu aku memasang sepatu dan segera melangkah keluar dari rumah. Tetapi sampainya di luar gerbang ternyata sepatuku lain sebelah. Aku jadinya harus menukar kembali sepatuku biar benar, kemudian aku harus berjalan tersipu-sipu pada diri sendiri.



            Dalam perjalanan otak ku berfikir liar, sudah tanggal sepuluh dan tak ada satu pun yang spesial. Seperti rasanya aku ingin menangis, berteriak, tapi aku tak bisa. Takut orang-orang akan mengiraku sebagai pelajar gila.



            Hari-hari ku di sekolah berjalan seperti apa yang aku inginkan. Seperti biasa, pagi ini aku dapat mencopy PR teman dengan lancar, dan tak ada satu pun guru yang memarahi aku. Aku malah sempat menggoda teman-temanku yang stress karena ada ulangan mendadak, dan aku tersenyum lega melihat mereka yang buru-buru menghapal materi. Syukurlah mereka semua tidak remidi, aku juga begitu, aku akhirnya dapat mengoleksi telur ayam ku yang ke seratus, karena ternyata jawabanku semuanya salah. Dan tertawan temanku adalah teriakan bahagia untukku.



            Sepulang sekolah, seperti biasa, aku dan kedua temanku, Zahra dan Nely berjalan pulang. Mereka adalah teman perjalananku yang setia, pulang selalu bersama. Kami sedang asyik bercanda melewati lapangan sepak bola saat seseorang menghampiri kami.



            “Ada yang namanya Sintia gak di sini?” tanyanya sembarangan, aku terkaget, aku tak tau apa alasan anak ini mencari diriku, kelihatannya anak laki-laki ini merupakan adik kelas kami, mungkin kelas delapan.



            Tetapi belum sempat kami menjawab ia sudah menyela, “Ini ada titipan buat Sintia, dari seseorang—“ ucapnya singkat sambil menyerahkan kotak biru kecil dengan pita di pinggirnya. Aku menerimanya dengan gemetar, Nely ikut memegang kotak itu, “Siapa yang ngasi?” tanyanya penasaran.



            “Ada, tapi saya nggak tau namanya—“



            “—cowok apa cewek?” sahut Nely cepat, kelihatan sekali dia sangat penasaran.



            “cowok”



            Anak itu berlalu dan menghilang melewati kerumunan siswa yang pulang. Aku masih terdiam dan bingung. Nely dan Zahra menepuk pundakku, “Ciiieee.. Kado dari siapa tuh? Ada penggemar rahasia nie..” goda mereka. Entah kenapa, godaan mereka tak dapat ku cerna, aku lebih memikirkan pengirim kado itu.



            “Sini, sini, biar saya bukain,” ujar Nely, ia mengambil kado itu dari tanganku dan membukanya dengan cepat, “Wow, jam tangan—“ ia mengambil jam tangan berwarna ungu dari dalam kado itu, Zahra kemudian mengambilnya, “—pulpen, hmm, dua!” mereka tertawa, aku mengambil pulpen dari tangan Nely, ada tulisan nama ku di sana, sulit dipercaya kado ini ternyata tidak salah alamat.



            “Ada nama pengirimnya, surat?” tanyaku penasaran, rasanya sangat aneh jika aku bertanya seperti ini.



            “Nggak ada, tapi intinya dia minta kamu rajin-rajin belajar, tuh buktinya,” ucap Zahra singkat setelah mengambil kotak itu dari Nely. Mereka merapikan kado itu kembali dan memberikannya padaku, aku langsung memasukkannya ke dalam tas. Aku tidak heran jika mereka terus mengejekku sepanjang perjalanan pulang, baik itu dengan, ‘penggemar rahasia’, ‘so sweet’, ‘kado ultah spesial’, atau ejekan lainnya. Dan aku tak yakin jika tadi mereka tidak melihat muka ku yang memerah.



***



            Ternyata ada banyak hal yang belum aku temukan di dunia ini. Tidak punya uang bukan berarti seseorang itu miskin, tidak pintar bukan berarti seseorang itu bodoh, bahkan jika tidak ada yang peduli bukan berarti tidak ada orang yang mengingat. Kado tersebut telah membuktikan bahwa siapa pun diriku, bagaimanapun sifatku, masih ada sosok yang memperhatikan dan menyayangi diriku. Termasuk orang tua yang tidak merayakan ulang tahunku dengan suatu alasan, dan figur yang tidak pernah mau diketahui keberadaannya, penggemar rahasia.



***