Showing posts with label Sekolah Menengah Atas (SMA). Show all posts
Showing posts with label Sekolah Menengah Atas (SMA). Show all posts

Tuesday, July 26, 2016

Contoh-Contoh Motion Debat Bahasa Inggris

CONTOH-CONTOH MOTION DEBAT BAHASA INGGRIS

-          Prostitution should be localized and legalized
-          Abortion should be legalized
-          Education should be free of charge
-          English is against nationalism
-          Illegal logging should be legalized
-          Cash finance aid(BLT) is not effective at all
-          Married teenagers should be allowed to school
-          School uniform should be abolished
-          Ecotourism to Mount Rinjani should be stopped
-          Smoking Should be totally banned In Indonesia
-          Work should be based on gender
-          School Uniform Should be abolished
-          Death Sentence for Terrorists and Drugs addicts
-          School Orientation  should be abolished
-          Prostitution Should be Localized
-          The Miss Universe Contest
-          School should not concern with students’ physical personal characteristic
-          Hanphone should be forbidden to bring to school

Sumber: Ekstrakurikuler English Debate SMAN 1 Narmada

MOTION REGIONAL LOMBOK
-          This house would not allow western cultures come into Lombok’s culture
-          This house believes that mount Rinjani should be like mount Bromo
-          THBT Senggigi should be main icon for Lombok tourism
-          THBT culture is the main asset to face globalization in Lombok
-          THBT Rinjani should become global Geo Park Network
-          THBT Modern Market in Lombok brings more harm than good
-          THS end contract with the Newmont NUSA Tenggara (NNT)
-          THBT Lombok International Airport brings more harm than good

MOTION LAIN
-          THBT the contest among cultures in Indonesia lessens the value of the culture itself
-          THW control access to the internet
-          THBT homerwork should be banned
-          THBT children under 14 should not be allowed on facebook
-          THBT zoos should be abolished
-          THBT Jakarta International School should be closed
-          THBT modernization is against our culture
-          THBT technology brings more harm than good
-          THBT media should never report on crimes to attract public attention
-          THBT sports stars should be positive role model
-          THBT the driving age should be raised
-          THW regret cutting off the subsidy
-          THW give no room for free education
-          THW impose a curfew on students
-          THBT tourism brings more harm than good
-          THBT school uniform is a threat for students
-          THW recognize a legally enforceable right to a minimum standard of living


Sumber : Festival Senggigi 2014 Kabupaten Lombok Barat

Contoh Judul Dan Tema Pidato Bahasa Indonesia Dan Bahasa Inggris

CONTOH JUDUL DAN TEMA PIDATO BAHASA INDONESIA DAN BAHASA INGGRIS
A.    PILIHAN TEMA-TEMA PIDATO BAHASA INDONESIA
-      Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamin
-      Nabi muhammad adalah suri tauladan yang baik
-      Keutamaan menuntut ilmu
-      Kita harus mandiri dan sukses
-      Membangun semangat muda
-      Jiwa mandiri kunci harga diri
-      Jadilah pemimpin perubahan untuk indonesia
-      Menjadi generasi muda pembawa perubahan
-      Berbakti kepada orang tua
-      Bangkitkan semangat pendidikan nasional
-      Kejarlah cita-citamu setinggi mungkin
-      Pemuda harapan bangsa
-      Jalin kebersamaan pelihara ukhuwah
-      Membangun semangat belajar menggapai prestasi
-      Melalui gotong-royong segala kesulitan bisa teratasi
-      Indahnya memiliki sopan santun
-      Buang penyesalan perbaiki masa depan
-      Waktu tak dapat diputar jangan disia-siakan
-      Indahnya menerapkan disiplin
-      Bahaya mengonsumsi narkoba
-      Persiapan diri menghadapi pengaruh globalisasi
-      Jagalah kesehatan dengan pola hidup sehat
-      Keluarga tempat pertama untuk bersosialisasi
-      Menghijaukan bumi menghalau pemanasan global
-      Memilih pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab
-      Peringatan isra’ mi’raj nabi muhammad saw menyelami makna perintah shalat
-      Seberapa besar cita-citamu menentukan seberapa besar kesuksesanmu
-      Makna hari kemerdekaan untuk diri sendiri
-      Isi kegiatan bulan ramadhan ini dengan belajar penuh semangat
B.    PILIHAN TEMA-TEMA PIDATO BAHASA INGGRIS
-      How to devote to our parents
-      Islam is rahmatan lil ‘alamin
-      Muhammad is the best figure
-      The advantage of science
-      We have to be independent
-      Build young spirit
-      Independent is the key of self esteem
-      Internet influences
-      Life is a choice
-      Reach your dream as high as sky
-      Everybody is smart, no one is stupid
-      What makes you proud of yourself
-      The dangers of drugs
-      Power of doa for muslims
-      Do not waste your time
-      Be wise selecting good partners
-      Using internet services positively
-      Globalization challenges
-      Selecting believable and responsible leaders
-      Isra’ mi’raj muhammad saw (understanding shalat order)
-      I am proud of being a muslim
-      Family roles for first socialization
-      Keep health by living healthy
-      Forget your regret reach your future
-      How great your wish determines your success
-      How to rise your self esteem
-      Ramadhan for muslims
-      True muslims criteria


Sumber: Olimpiade Pidato Dua Bahasa Tingkat Provinsi Tahun 2014

Contoh-contoh Mosi Debat Bahasa Indonesia

CONTOH-CONTOH MOSI DEBAT BAHASA INDONESIA
A.    Pendidikan
-      Pemerintah akan mengembalikan program RSBI
-      Pelaksanaan pendidikan untuk anak-anak TKI dan daerah perbatasan belum optimal
-      Pemerintah akan memberikan pendidikan sex education
B.    Ekonomi
-      Kebijakan impor Indonesia memberikan dampak buruk bagi produksi nasional
-      Kebijakan 4 Paket Ekonomi akan menyelamatkan perekonomian nasional
-      Kesiapan Indonesia dalam memasuki era perdagangan ASEAN 2015
C.   Politik
-      Layakkah Jokowi menjadi presiden Indonesia
-      TNI/ABRI akan diberikan hak pilih dalam PEMILU
-      Politik Dinasti harus dihapuskan di Indonesia
D.   Sosial Budaya
-      Perkembangan teknologi sekarang ini, anak-anak Indonesia menjadi malas membaca buku
-      Program TV di Indonesia membawa dampak buruk bagi generasi muda Indonesia
-      Masyarakat harus beralih ke kendaraan umum demi lancarnya arus lalu lintas Indonesia
E.    Hukum
-      Pemerintah akan menerapkan hukuman mati bagi para koruptor
-      Pemerintah akan menghapus peradilan anak di Indonesia
F.    Pertahanan dan Keamanan
-      Indonesia harus menggunakan alutsista buatan produk dalam negeri
-      Kemampuan intelejen Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara lain
MOSI SEMI FINAL DAN FINAL: IMPROMTU


Sumber: Himpunan Mahasiswa Program Studi PPKN FKIP UNRAM

Sunday, July 24, 2016

Contoh Teks Ulasan (Resensi) untuk Film - Tugas Bahasa Indonesia

Kali ini author akan share salah satu teks ulasan (resensi) film yang sudah author buat. Dalam resensi ini author mengulas sebuah film yang berjudul Soekarno: Indonesia Merdeka. Semoga bisa membantu :)
Ket: Teks ini sudah dinilai dan hasilnya bisa dipertanggung jawabkan

Kilas Balik ’45 Digenggaman Tokoh-tokoh Nasionalis Indonesia


Judul Film       : Soekarno: Indonesia Merdeka
Sutradara         : Hanung Bramantyo
Tanggal rilis     : 11 Desember 2013

            Soekarno: Indonesia Merdeka adalah sebuah film yang produksi oleh MVP Pictures dan diadaptasi dari cerita hidup Ir. Soekarno, salah satu proklamator kemerdekaan Indonesia sekaligus  presiden Indonesia yang pertama. Di dalam film ini, sosok Soekarno Muda tumbuh menjadi tokoh heroik nasionalis yang berperan penting dalam sejarah Indonesia, mulai dari masa penjajahan Belanda & Jepang hingga akhirnya fondasi kedaulatan Republik Indonesia mulai berdiri.
            Film ini dibuka dengan cerita seorang bocah lelaki bernama Koesno (Emir Mahira) yang sering sakit-sakitan. Ayah Koesno yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo (Sujiwo Tedjo), beranggapan bahwa keadaan ini diakibatkan karena nama anaknya yang tidak sesuai. Untuk mengatasinya, keluarga Koesno mengadakan acara penggantian nama Koesno menjadi Soekarno, yang diinspirasi oleh sosok Adipati Karno dalam kisah pewayangan.
            Dari sana perlahan-lahan pribadi Soekarno mulai berkembang. Sejak dia masih remaja dan berguru pada H.O.S Cokroaminoto, pendiri sarekat islam, sampai akhirnya membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. Tidak hanya itu, Hanung menggambarkan perjalanan kehidupan politik Soekarno, berawal dari kehadirannya di depan podium untuk mengguncang semangat rakyat pada usia yang masih muda, yaitu 24 tahun, kemudian liku-liku kehidupan Soekarno berlanjut dengan kegiatan politik, yang berkali-kali membuat Soekarno mengalami penahanan, dan pengasingan dari pemerintah kolonial dan imperial. Film ini dibintangi oleh Ario Bayu (Soekarno), Lukman Sardi (Mohammad Hatta), Maudy Koesnaendi (Inggit Garnasih), Tanta Ginting (Sutan Sjahrir), Tika Bravani (Fatmawati), Sudjiwo Tedjo (Raden Soekemi Sosrodihardjo), Ayu Laksi (Ida Ayu Nyoman Rai), dan Hamdy Salad (Ahmad Subardjo).         
            Keputusan penting sutradara Hanung Bramantyo dan produser Raam Punjabi dalam memilih pemeran dalam film ini ternyata dapat menggambarkan karakter masing-masing. Setiap pemain setidaknya memiliki beberapa kesamaan fisik dengan tokoh aslinya. Walaupun, pada dasarnya harus diakui, bahwa sangat sulit mencari pemain yang benar-benar identik. Emir Contohnya, Emir Mahira yang membawa peran Soekarno Muda (Koesno), raut wajahnya yang polos, ditambah lagi kulitnya yang berwarna kecoklatan dengan bendo erat dikepala, sungguh mencerminkan sosok soekarno muda. Begitu juga Ario Bayu yang memiliki postur tegap dan suara tegas seperti Soekarno, Maudy Koesnaendi yang karakter wajahnya mirip Inggit Purwasih, atau Tika Bravani yang sekilas terlihat sangat identik dengan Fatmawati. Tidak bisa dipungkiri, tata artistik, seperti tata rias dan tata busana,  juga dapat menambah aksen-aksen lainnya agar terlihat lebih jelas.
            Tidak hanya itu saja, dalam film ini terdapat banyak sekali pemain figuran yang muncul dibeberapa scene. Kumpulan massa pendukung PNI yang tak berhujung terlihat pada saat Soekarno menyampaikan pidato-nya yang pertama. Hal itu juga terjadi pada detik-detik proklamasi dan pada saat tentara Nippon menyerang beberapa wilayah Indonesia. Masyarakat-nya pun, disesuaikan dengan  kondisi Indonesia sebelum proklamasi, buruh, petani, pedagang, bahkan orang-orang tua yang dipaksa bekerja dalam romusha mengisi suasana.
            Selain itu, ketelitian Hanung menyeleksi pemain-pemain untuk dijadikan kalangan Belanda dan Jepang patut diancungi jempol. Pemain yang dipilih merupakan keturunan asli dan setidaknya bisa berbahasa Indonesia sesuai intonasinya sendiri. Perwujudan Laksamana Maeda dan Jendral Nishimura merupakan contoh konkret, ia bisa mengimprovisasi gaya bicara berbahasa Indonesia selayaknya berbahasa Jepang. Disamping itu, penggunaan bahasa Belanda dalam tiap perdebatan tokoh nasionalis menambah ketegangan. Bagaimana pun caranya, mengajarkan pemain untuk berbahasa Belanda tidaklah mudah, walaupun hanya sepatah. Hal ini disebabkan karena setidaknya pemeran harus terdengar fasih dan meyakinkan. Sekali lagi, Hanung sukses merancang adegan menjadi sebuah film yang utuh dan padu.
            Di sisi lain, penggunaan pemain yang mementingkan keidentikannya dengan tokoh, ternyata menjebak Hanung sendiri. Beberapa tokoh yang ditampilkan, bukannya menggugah minat penonton, malah membuat samar tokoh itu sendiri. Perbedaan tersebut sangat terlihat pada tokoh Moh. Hatta yang diperankan oleh Lukman Sardi, terjadi perubahan karakter Moh. Hatta, dari tegas dan pasti menjadi sosok yang bimbang, tidak tegas, dan mudah terpengaruh. Hal yang demikian juga terdapat pada tokoh Sutan Sjahrir yang diperankan oleh Tanta Ginting, terjadi perubahan karakter wajah Sutan Sjahrir sehingga terlihat terlalu berambisi dan pemarah.
            Sulitnya mengatur gaya bahasa dan kosa kata daerah tiap pemeran membuat film ini belum bisa disebut sempurna. Beberapa aktor atau aktris yang tidak berkebangsaan asli kurang bisa menggunakan bahasa lokal bangsa tersebut. Contohnya Fatmawati (Tika Bravani) yang terdengar tidak fasih menggunakan bahasa daerah Bengkulu. Tidak hanya itu banyak diantara dialog tokoh yang kadang-kadang tidak menggambarkan gaya berbicara khas Indonesia era kemerdekaan. Sebaliknya terdapat beberapa kalimat yang merupakan bahasa Indonesia sekarang, kebanyakan agar terdengar seperti era sebelum proklamasi, pemeran sering menggunakan kata ‘bung’ untuk sapaan akrab. Dapat diamati pada scene saat Soekarno dan Hatta berbincang di dalam mobil setelah pertemuan dengan Jendral Nishimura.
            Pada awal film, penonton akan digugah jiwa patriotismenya dengan menyanyikan lagu Indonesia yang diselipkan oleh MVP Pictures. Mengingat bahwa ini bukan sekedar film, tapi gambaran bagi kronologi kemerdekaan negeri yang kita huni ini, Indonesia. Penonton akan segera terdorong rasa nasionalismenya oleh adegan Soekarno yang berpidato menggebu-gebu di depan khalayak ramai, bahasa tubuhnya, dan gaya bicaranya, diperankan cukup baik oleh Ario Bayu. Selain itu, di tengah-tengah film disisipi beberapa adegan yang menceritakan kisah cinta romantis anatara Soekarno dan Fatmawati yang pada saat itu masih merupakan muridnya. Kemudian, Hanung mengantarkan penonton pada cerita sedih Soekarno pada saat bertengkar dengan Inggit karena ingin menikahi Fatmawati, Inggit pun cerai. Tetapi cerita cinta mulai bersemi kembali saat Soekarno pada akhirnya menikahi Fatmawati. Adegan tersebut setidaknya menunjukkan Soekarno sebagai manusia biasa, yang tidak sempurna sama dengan kita.
            Satu hal lagi yang membuat film ini semakin menarik. Pada akhir film ditambahkannya video asli momen-momen saat Ir. Soekarno masih hidup, membuat film semakin selaras. Penonton bisa membandingkan latar dalam video asli dengan di film, sangat persis. Hal itu juga sekaligus menambah betapa indahnya akhir kisah proklamasi Indonesia dari sudut Soekarno itu. Tidak menutup kemungkinan akan membuat penonton terkesan dengan suara Soekarno asli Soekarno yang lantang berpidato, dan mimik senyumnya pada akhir film.
            Sekalipun merupakan film yang dapat digolongkan sebagai film semidokumenter atau biografi, film Soekarno memberikan kesan tersendiri dengan cerita nya yang cukup berbeda. Di tiap-tiap menit disisipi adegan-adegan romantis dan perikemanusiaan yang mencerminkan bahwa Soekarno bukan hanya seorang pejuang nasionalis ulung dan proklamator yang konsisten. Tetapi juga merupakan manusia yang mempunyai jiwa dan sikap yang sama seperti kita.

            Di luar itu semua, film ini merupakan film terbaik yang pernah dikeluarkan oleh Hanung Bramantyo dan produser Raam Punjabi. Oleh sebab itu, film ini nampaknya wajib menjadi tontonan sekaligus pengingat jejak sejarah, terutama bagi setiap warga Indonesia. Film ini juga memotivasi dan menginspirasi setiap insan di tanah ibu pertiwi ini, agar semakin mencintai tanah air dan mengikuti jejak pahlawan nasionalis, dengan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia. Jadi, setidaknya cukup layak jika anda mengeluarkan sedikit uang untuk menontonnya di bioskop. Namun, keputusan menonton film ada di tangan anda.

Saturday, April 30, 2016

Penjelasan Mengenai Pembagian Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia



PEMBAGIAN KELAS KATA DALAM BAHASA INDONESIA
1. VERBA
Secara sintaksis sebuah satuan gramatikal dapat diketahui berategoi verba dari perilakunya dari satuan yang lebih besar; jadi sebuah kata dapat dikatakan berkaegori verba hanya dari peri lakunya dalam frase, yakni dalam hal kemunginannya satuan itu didampingi partikel tidak dalam konstruksi dan dalam hal tidak dapat didampinginya satuan itu dangan partikel di, ke, dari, atau dengan partikel seperti sangat, lebih, atau agak. Secara umum verba dapat diidentifikasikan dan dibedakan dari kelas kata yang lain, terutama dari adjektiva, karena ciri-ciri berikut.
a. Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain.
Contoh:
1. Pencuri itu lari.
2. Mereka sedang belajar di kamar.
3. Bom itu seharusnya tidak meledak.
4. Orang asing itu tidak akan suka masakan Indonesia.
Bagian yang dicetak miring dalam kalimat di atas adalah predikat, yaitu bagian yang menjadi pengikat bagian lain dalam kalimat itu.
b. Verba mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas.
c. Verba, khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti “paling”. Verba seperti mati atau suka, misalnya, tidak dapat diubah menjadi termati atau tersuka.
d. Pada umumnya verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan. Tidak ada bentuk seperti agak belajar, sangat pergi, dan bekerja sekali
VERBA DARI SEGI PERILAKU SEMANTISNYA
Tiap verba memiliki makna inheren yang terkandung di dalamnya
Ø mengandung makna inheren perbuatan. Contoh: lari, belajar, mendekat, mencuri, memberhentikan, menakut-nakuti, naik haji.
Ø Verba seperti itu biasanya dapat menjadi jawaban untuk pertanyaan Apa yang dilakukan oleh subyek?
Ø Semua verba perbuatan dapat dipakai dalam kalimat perintah.
Ø Mengandung makna inheren proses. Contoh: meledak, mati, jatuh, mongering, mengecil, kebanjiran, terdampar.
Ø Verba yang mengandung makna itu biasanya dapat menjawab pertanyaan Apa yang terjadi pada subyek?
Ø Verba proses juga menyatakan adanya perubahan dari suatu keadaan ke keadaan lain.
Ø Mengandung makna inheren keadaan. Contoh: suka, mati, berguna.
Ø Verba keadaan menyatakan bahwa acuan verba berada dalam situasi tertentu. Verba keadaan sering sulit dibedakan dari adjektiva karena kedua jenis kata itu mempunyai banyak persamaan. Bahkan dapat dikatakan bahwa verba keadaan yang tidak tumpang-tindih dengan adjektiva jumlahnya sedikit. Satu ciri yang dapat membedakan keduanya ialah bahwa perfiks adjektiva ter- yang berarti “paling” dapat ditambahkan pada adjektiva , tetapi tidak pada adjektiva keadaan.
Makna inheren suatu verba tidak terikat dengan wujud verba tersebut. Apakah suatu verba disebut kata dasar, kata yang tanpa afiks, atau dengan afiks, hal itu tidak mempengaruhi makna. Makna inheren juga tidak selalu berkaitan dengan status ketransitifan suatu verba.
– Verba pengalaman. Contoh: mendengar, melihat, tahu, lupa, ingat, menyadari.
– Makna verba yang muncul karena adanya afiksasi. Contoh: membelikan, memukuli, terbawa.
VERBA DARI SEGI PERILAKU SINTAKSISNYA
Verba merupakan unsur yang sangat penting dalam kalimat karena dalam kebanyakan hal verba berpengaruh besar terhadap unsur-unsur lain yang harus atau boleh ada dalam kalimat tersebut.
1. Verba Transitif
Verba transitif yaitu verba yang memerlukan nomina sbagai objek dalam kalimat aktif, dan objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Contoh:
1. a. Ibu sedang membersihkan kamar.
b. Kamar itu sedang dibersihkan oleh ibu.
2. a. Rakyat pasti mencintai pemimpin yang jujur.
b. Pemimpin yang jujur pasti dicintai oleh rakyat.
3. a. Polisi harus memperlancar arus lalu lintas.
b. Arus lalu lintas harus diperlancar oleh polisi.
4. a. Pemerintah akan memberlakukan peraturan itu segera.
b. Peraturan itu segera akan diberlakukan oleh pemerintah.
5. a. Sekarang orang sukar mencari pekerjaan.
b. Sekarang pekerjaan sukar dicari orang.
Verba transitif dapat dibedakan menjadi.
▪Verba ekstransitif adalah verba transitif yang diikuti oleh satu objek.
Contoh: saya sedang mencari pekerjaan.
subyek obyek
Objek dalam kalimat yang mengandung verba ekatransitif dapat diubah fungsinya sebagai subyek dalam kalimat pasif.
▪Verba dwitransitif adalah verba yang dalam kalimat aktif dapat diikuti oleh dua nomina, satu sebagai objek dan satunya lagi sebagai pelengkap.
Contoh: saya sedang mencarikan adik saya pekerjaan, ibu akan membelikan kakak baju baru. Sejumlah verba dwitransitif memiliki ciri semantis yang “membedakan fungsi objek dari pelengkap yang berupa nama, julukan, gelar, atau kedudukan. Contoh: mereka menamai bayi itu Sarah, masyarakat menuduh dia pencuri, dia memanggil saudaranya Alan. Bila kalimat ini dijadikan kalimat pasif, maka pelengkapnya bisa berada di belakang verba, di muka verba, kata tugas oleh umumnya tidak dipakai, kecuali bila ditempatkan di muka.
Ada pula verba yang dapat bersifat dwitransitif dan ekatransitif . Contoh: mereka memanggil kamu si Botak dan mereka memanggil kamu.
▪Verba semi transitif ialah verba yang objeknya boleh ada dan boleh tidak. Contoh: ayah sedang membaca koran, ayah sedang membaca.
2. Verba Taktransitif
Verba taktransitif adalah verba yang tidak memiliki nomina di belakangnya yang dapat berfungsi sebagai subyek dalam kalimat pasif. Contoh:
1. Maaf, Pak, Ayah sedang mandi.
2. Kami harus bekerja keras untuk membangun negara.
3. Petani di pegunungan bertanam jagung.
Verba taktransitif dibagi menjadi
▪Verba berpelengkap. Jika pelengkap itu tidak hadir maka kalimat tidak sempurna dan tidak berterima. Contoh: Rumah orang kaya itu berjumlah lima puluh buah, yang dikemukakan adalah suatu dugaan, dia sudah mulai bekerja, nasi telah menjadi bubur,
▪Verba taktransitif berpelengkap manasuka. Pelengkap tidak selalu hadir. Di antara verba seperti itu ada yang diikuti oleh kata atau frasa tertentu yang kelihatannya seperti pelengkap, tetapi sebenarnya adalah keterangan. Contoh: makin tua makin menjadi, pikiran yang dikemukakannya bernilai, film itu berwarna, bibit kelapa itu tumbuh subur
3. Verba Berpreposisi
Verba berpreposisi ialah verba taktransitif yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu. Contoh:
1. Kami belum tahu akan/tentang hal itu.
2. Saya sering berbicara tentang hal ini.
3. Sofyan berminat pada musik.
4. Keberhasilan pembangunan banyak bergantung pada mentalitas para pelaksananya..
Di antara verba berpreposisi, ada yang sama artinya dengan verba ransitif. Contoh: berbicara tentang = membicarakan, cinta pada/akan = mencintai, suka akan = menyukai, tahu akan/tentang = mengetahui, bertemu dengan = menemui.
VERBA DARI SEGI BENTUKNYA
1. Verba Asal
Verba asal ialah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks. Contoh: ada, bangun, cinta, gugur, hancur, hidup, dating, paham, pecah.
2. Verba Turunan
Verba turunan adalah verba yang dibentuk melalui trasposisi, pengafiksan, reduplikasi (pengulangan), atau pemajemukan (pemaduan).
▪Transposisi adalah suatu proses penurunan kata yang memperlihatkan peralihan suatu kata dari kategori sintaksis yang satu ke kategori sintaksis yang lain tanpa mengubah bentuknya. Contoh: telepon, cangkul, gunting, sikat.
▪Pengafiksan adalah penambahan afiks pada dasar. Contoh: membeli, mendarat, beremu, bersepeda.
▪Reduplikasi adalah pengulangan suatu dasar. Contoh: lari-lari, makan-makan, tembak-menembak, mereka-reka.
▪Pemajemukan adalah penggabungan atau pemaduan dua dasar atau lebih sehingga menjadi satu satuan makna. Contoh: jual beli, jatuh bangun, salah sangka, salah hitung, hancur lebur.
DILIHAT DARI HUBUNGAN VERBA DENGAN NOMINA
1. Verba Aktif,
yaitu verba yang subyeknya berperan sebagai pelaku.
Contoh: ia mengapur dinding; saya makan nasi;
2. Verba pasif,
yaitu verba yang subyeknya berperan sebagai penderita, sasaran, atau hasil.
Contoh: Adik dipukul ayah; buku itu terinjak olehku.
3. Verba anti – aktif (ergatif),
yaitu verba pasif yang tidak dapat diubah menjdi verba aktif, dan subyeknya merupakan penanggap ( yang merasakan, menderita, mengalami).
Contoh: Ibu kecopetan di bis. ( yang tidak berasal dari ’X mencopet ibu)
4. Verba anti – pasif,
yaitu verba aktif yang tidak dapat diubah menjadi verba pasif.
Contoh: Ia haus akan kasih sayang; pemuda ini benci terhadap perempuan.
DILIHAT DARI INTERAKSI ANTARA NOMINA PENDAMPINGNYA
1. Verba Respirokal,
yaitu verba yang menyatakan perbuatan yang dilakukan oleh dua pihak, dan perbuatan tersebut dilakukan dengan saling berbalasan. Kedua belah pihak terlibat perbuatan.
Contoh: berkelahi, berpegangan, tolong – menolong.
2. Verba non-respirokal,
yaitu verba yang tidak menyatakan perbuatan yang dilakukan oleh dua pihak dan tidak saling berbalasan.
2. NOMINA
Nomina sering juga disebut kata benda. Dari segi sintaksisnya, nomina mempunyai ciri-ciri tertentu.
a. Dalam kalimat yang predikatnya verba, nomina cenderung menduduki fungsi subyek, objek, atau pelengkap.
b. Nomina tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak. Kata pengingkarnya ialah bukan.
c. Nomina umumnya dapat diikuti oleh adjektiva, baik secara langsung maupun dengan diantarai oleh kata yang.
d. Mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel dari.
NOMINA DARI SEGI PERILAKU SEMANTISNYA
Tiap kata dalam bahasa mana pun mengandung fitur-fitur semantic yang secara universal melekat pada kata tersebut. Pemakaian preposisi di, di dalam, dan di atas dipengaruhi oleh fitur semantic yang ada pada nomina porosnya. Kata-kata dalam bahasa sering pula dipengaruhi oleh budaya masyarakat yang bersangkutan. Contoh: gadis itu akan kawin dengan Agus minggu depan, Agus akan mengawini gadis itu minggu depan, di dalam laci, di meja.
NOMINA DARI SEGI PERILAKU SINTAKSISNYA
Pada frasa nominal, nimina befungsi sebagai ini atau poros frasa. Sebagai inti frasa, nomina menduduki bagian utama, sedangkan pewatasnya berada di muka atau di belakangnya. Bila pewatas frasa nominal itu berada di muka, pewatas ini umumnya berupa numeralia atau kata tugas. Contoh: lima lembar, seorang guru, beberapa sopir, bukan jawaban, banyak masalah.
Kalau pewatas berada di belakang nomina, nomina yang merupakan inti frasa itu diikuti oleh pewatas yang berupa nomina, ajektiva, verba, atau kelas kata yang lain. Contoh: masalah penduduk, kelas ringan, pola berpikir, rumah kita, tabungan berjangka.
Nomina juga digunakan dalam frasa preposisional. Nomina bertindak sebagai poros yang didahului oleh preposisi tertentu. Contoh: di kantor, ke desa, dari markas, untuk adekmu, pada masa itu.
NOMINA DARI SEGI BENTUKNYA
1. Nomina Dasar
Nomina dasar adalah nomina yang hanya terdiri atas satu morfem.
a. Nomina dasar umum
Contoh: gambar, meja, rumah, malam, minggu.
b. Nomina dasar khusus
Contoh: adik, atas batang, bawah, dalam.
Dalam kelompok nomina dasar khusus kita temukan bermacam-macam subkategori kata dengan beberapa fitur semantiknya.
1. Nomina yang mengacu pada tempat seperti di atas, di bawah, di dalam.
2. Nomina yang mengacu pada nama geografis.
3. Nomina yang menyatakan penggolongan kata berdasarkan bentuk rupa acuannya secara idiomatis.
4. Nomina yang mengacu pada nama diri orang.
5. Nomina yang mengacu pada orang yang masih mempunyai hubungan kekerabatan.
6. Nomina yang mengacu pada nama hari.
2. Nomina Turunan
Nomina dapat diturunkan melalui afiksasi, perulangan, atau pemajemukan.
▪Afiksasi nomina adalah suatu proses pembentukan nomina dengan menambahkan afiks tertentu pada kata dasar. Ada tujuh macam afiksasi dalam penurunan nomina:
1. ke-
contoh: ketua, kehendak, kekasih dan kerangka.
2. pel-, per-, dan pe-
contoh: pelajar, pertapa, persegi, petani, perdagangan.
3. peng-
a. orang atau hal yang melakukan perbuatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: pembeli, pendobrag, pengawas, pemilih, pengirim, pengetes.
b. orang yang pekerjaannya melakukan kegiatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: penyanyi, pelaut, pemulung, pengemis, penyiar.
c. orang yang memiliki sifat yang dinyatakan oleh adjektiva dasarnya. Contoh: pemarah, penakut, pelupa, pemalas, periang.
d. alat untuk melakukan kegiatan yang dilakukan oleh verba. Contoh: penggali, penghapus, pembersih, pendorong, penopang.
3. –an
a. hasil tindakan atau sesuatu yang dinyatakan oleh verba. Contoh: anjuran, kiriman, asinan, kiloan.
b. Makna lokasi. Contoh: tepian, belokan, awalan, akhiran.
c. Waktu yang berkala. Contoh: harian, mingguan, bulanan, tahunan.
d. Buah-buahan. Contoh: durian, rambutan.
e. Kumpulan dari nomina. Contoh: sayuran, lautan.
4. peng-an
a. perbuatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: pemberontakan, pendaftaran, pengunduran, penyajian, pelampiasan.
b. hasil perbuatan; hal yang dinyatakan verba. Contoh: pengakuan, penghargaan, penyelesaian, pengumuman, pemberitaan.
c. maknanya unik sehingga harus ditentukan sendiri-sendiri. Contoh: pendirian, pendapatan, pemandangan, pendengaran.
5. per-an
a. diturunkan dari verba taktransitif dan berawalan ber-. Contoh: perjanjian, pergerakan, perjalanan, pertemuan, perpindahan.
b. Berkaitan dengan verba meng- atau memper- yang berstatus transitif. Contoh: perlawanan, permintaan, percobaan, pergelaran, perjuangan.
c. Hal, keadaan, atau hasil yang dinyatakan oleh verba. Contoh: pergerakan, perdagangan, pertanian, perjuangan.
d. Perbuatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: perkelahian, perzinaan, percakapan,ercobaan, perlawanan.
e. Hal yang berkaitan dengan kata dasar. Contoh: perikanan, perkapalan, perbukuan, perburuhan, persuratkabaran.
f. Tempat yang dirujuk oleh verba atau kata dasar. Contoh: perapian, perkotaan, perkampungan, perkemahan, perguruan.
6. ke-an
a. hal atau keadaan yang berhubungan dengan yang dinyatakan verba. Contoh: kepergian, kedatangan, kehadiran, keberangkatan, keputusan, ketetapan.
b. Hal atau keadaan yang berhubungan dengan yang dinyatakan adjektiva. Contoh: kekosongan, keberanian, kebimbangan, kemalasan, kekecewaan.
c. Keabstrakan. Contoh: kebangsaan, kemanusiaan, kerakyatan, kekeluargaan.
d. Kantor atau wilayah kekuasaan. Contoh: kedutaan, kelurahan, kecamatan.
e. Kumpulan dari kata dasar. Contoh: kepulauan.
▪Perulangan atau reduplikasi adalah proses penurunan kata dengan perulangan, baik secara utuh maupun secara sebagian.
1. Ketaktunggalan
§ Makna Keanekaan. Contoh: bangun-bangunan, coret-coret, desas-desus, warna-warni, teka-teki.
§ Makna Kekolektifan. Contoh: dedaunan, pepohonan, biji-bijian, daun-daunan, rumput-rumputan.
2. Kemiripan
§ Makna Kemiripan Rupa. Contoh: bapak-bapak, kakek-kakek, mata-mata, kuda-kuda, jari-jari.
§ Makna Kemiripan Cara. Contoh: kucing-kucingan, angina-anginan, kebelanda-belandaan, kekanak-kanakan, kegila-gilaan.
SUBKATEGORISASI TERHADAP NOMINA DILAKUKAN DENGAN MEMBEDAKAN:
1. Nomina bernyawa dan tak bernyawa
Nomina bernyawa dapat disubtitusikan dengan ia atau mereka, sedangkan yang tak bernyawa tidak dapat.
Contoh nomina bernyawa: nenek, nona, tuan.
Contoh nomina tak bernyawa: Jawa, sekarang, karung.
2. Nomina terbilang dan tak terbilang
Nomina terbilang adalah nomina yang dapat dihitung (dan dapat didampingi oleh numeralia) seperti kantor, kampung, buku.
Nomina tak terbilang ialah nomina yang tak dapat didampingi oleh numeralia seperti udara, kebersihan; termasuk pula nama diri dan nama geografis.
3. Nomina kolektif dan bukan kolektif
Nomina kolektif mempunyai ciri dapat disubtitusikan dengan mereka atau dapat diperinci atas anggota atau atas bagian – bagian. Nomina kolektif terdiri atas nomina dasar seperti: tentara, puak, keluarga, dan nomina turunan seperti: wangi – wangian, tepung – tepungan.
3. NUMERALIA
Numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya maujud (orang, binatang, atau brang) dan konsep. Numeralia adalah kategori yang dapat (1) mendampingi nomina dalam konstruksi sintaksis, (2) mempunyai potensi untuk mendamping numeralia lain, dan (3) tidak dapat bergabung dengan tidak atau dengan sangat. Numeralia mewakili bilangan yang terdapat dalam alam diluar bahasa.
NUMERALIA POKOK
1. Numeralia pokok tentu,
mengacu pada bilangan pokok, yakni 0(nol), 1(satu), 2(dua), sampai 9(Sembilan).Ada pula numeralia yang merupakan gugus yaitu diantara sepuluh dan dua puluh dipakai gugus yang berkomponen belas. Bilangan di atas bilangan sembilan belas dinyatakan dengan menganggap seolah olah bilangan itu terdiri atas beberapa gugus dan bilangan. Contoh : 7.859 =Tujuh ribu delapan ratus lima puluh Sembilan. Dalam bahasa Indonesia baku, numeralia pokok ditempatkan di muka nomina dan dapat diselingi oleh kata penggolong seperti orang, ekor, dan buah. Contoh: majalah kami memerlukan tiga orang penyunting, pak hasan mempunyai dua ekor burung merak.
2. Numeralia pokok kolektif,
dibentuk dengan prefiks ke- yang ditempatkan dimuka nomina yang diperankan. Contoh: ketiga pemain, kedua gedung, kesepuluh anggota. Jika tidak diikuti oleh nomina, biasanya bentuk itu diulang dan dilengkapi dengan -nya. Contoh: kedua-duanya, ketiga-tiganya.
Numeralia kolektif dibentuk dengan cara
1. Penambahan prefiks ber- atau se- pada nomina tertentu setelah numeralia. Contoh: tiga bersaudara, empat beranak, tiga sekawan, tiga serangkai, dua sejoli.
2. Penambahan prefiks ber- pada numeralia pokok dan hasilnya diletakkan sesudah pronominal persona. Contoh: (kamu) berlima, (kami) berenam.
3 Pemakain numeralia yang berprefiks ber- dan yang diulang. Contoh: beribu- ribu, berjuta-juta.
4. Pemakaian gugus numeralia yang bersufiks –an. Contoh: puluhan, ratusan.
3. Numeralia pokok distributif,
dapat dibentuk dengan cara mengulang kata bilangan. Artinya ialah ‘demi’ dan ‘masing-masing’. Contoh: satu-satu, dua-dua.
4. Numeralia pokok tak tentu,
mengacu pada jumlah yang tidak pasti dan sebagian besar numeralia ini tidak dapat menjadi jawaban atas peranyaan yang memakai kata tanya berapa, ditempatkan di muka nomina yang diterangkannya. Contoh: banyak orang, berbagai masalah, pelbagai budaya, sedikit air, semua jawaban, seluruh rakyat, segala penjuru, segenap anggota.
5. Numeralia pokok klitika,
yaitu numeralia lain yang dipungut dari bahasa Jawa Kuna, diletakkan di muka nomina yang bersangkutan. Contoh: triwulan, caturwulan, pancasila, saptamarga, dasalomba.
6. Numeralia ukuran.
Contoh: lusin, kodi, meter, liter, atau gram.
NUMERALIA TINGKAT
Numeralia pokok dapat diubah menjadi numeralia tingkat. Cara mengubahnya adalah dengan menambahkan ke- di muka bilangan yang bersangkutan. Contoh: kesatu atau pertama, kesepuluh, pemain ketiga, jawaban kedua itu, suara pertama.
NUMERALIA PECAHAN
Tiap bilangan pokok dapat dipecah menjadi bagian yang lebih kecil yang dinamakan numeralia pecahan. Cara membentuknya dengan memakai kata per- diantara bilangan pembagi dan penyebut. Bilangan pecahan dapat mengikuti bilangan pokok. Bilangan campuran dapat ditulis desimal. Contoh: 1/2 = seperdua, setengah, separuh; 1/10 = sepersepuluh; 3/5 = tiga perlima; 9,75 = sembilan tigaperempat atau sembilan koma tujuh lima.
FRASA NUMERALIA
Umumnya dibentuk dengan menambahkan kata penggolong. Contoh: dua ekor (kerbau), lima orang (penjahat), tiga buah (rumah).
4. ADJEKTIVA
Adjektiva ialah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat.
Adjektiva ditandai oleh kemungkinannya untuk (1) bergabung dengan partikel tidak, (2) mendampingi nomina, atau (3) didampingi partikel seperti lebih, sangat, agak, (4) mempunyai ciri – ciri morfologis, seperti –er- (dalam honorer), -if (dalam sensitif ), -i (dalam alami), atau (5) dibentuk menjadi nomina dengan konfiks ke-an, seperti adil – keadilan, halus – kehalusan, yakin – keyakinan (ciri terakhir ini berlaku bagi sebagian besar adjektiva dasar dan bisa menandai verba intransitif, jadi ada tumpang tindih di antaranya)
Adjektiva yang memberikan keterangan terhadap nomina itu berfungsi atributif.
▪Keterangan itu dapat mengungkapkan suatu kualitas atau keanggotaan dalam suatu golongan. Contoh: kecil, berat, merah, bundar, gaib, dan ganda.
▪Berfungsi sebagai predikat dan adverbial kalimat, dapat mengacu ke suatu keadaan. Contoh: mabuk, sakit, basah, baik, dan sadar.
▪Kemungkinan menyatakan tingkat kualitas dan tingkat bandingan acuan nomina yang diterangkannya. Contoh: sangat, agak, lebih, dan paling.
ADJEKTIVA DARI SEGI PERILAKU SEMANTISNYA
1. Adjektiva Bertaraf
Adjektiva bertaraf mengungkapkan suatu kualitas.
a. Adjektiva pemeri sifat. Jenis ini dapat memerikan kualias dan intensitas yang bercorak fisik atau mental. Contoh: aman, bersih, cocok, dangkal, indah.
b. Adjektiva ukuran, mengacu ke kualitas yang dapa diukur dengan ukuran yang sifatnya kuantitatif. Contoh: berat, ringan, tinggi, panjang, luas.
c. Adjektiva warna, mengacu ke berbagai warna seperti merah, kuning, hijau, biru, lembayung.
d. Adjektiva waktu mengacu ke makna proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung sebagai pewatas. Contoh: lama, segera, jarang, mendadak, singkat,.
e. Adjektiva jarak mengacu ke ruang antara dua benda, tempat, atau maujud sebagai pewatas nomina. Contoh: jauh, dekat, lebat, suntuk, akrab.
f. Adjektiva sikap batin bertalian dengan pengacuan suasana hati atau perasaan. Contoh: bahagia, bangga, benci, iba, jemu, yakin.
g. Adjektiva cerapan bertalian dengan pancaindera, yakni penglihatan, pendengaran, penciuman atau penghiduan, perabaan, dan pencitarasaan. Ciri yang menarik pada adjektiva cerapan dalam kalimat ialah sering terjadinya gejala sinestesi. Artinya, ada penggabungan indra yang nertalian dengan nomina dan adjektiva yang mengacu kepada dua macam cerapan yang berbeda. Contoh: gemerlap, bising, anyir, basah, asam.
2. Adjektiva Tak Bertaraf
Adjekiva tak bertaraf menempatkan acuan nomina yang diwatasinya di dalam kelompok atau golongan tertentu. Kehadirannya dalam lingkungan itu tidak dapat bertaraf-taraf. Sesuatu ada di dalamnya atau di luarnya. Contoh: abadi, buntu, bundar, lonjong, tunggal.
ADJEKTIVA DARI SEGI PERILAKU SINTAKSISNYA
1. Fungsi Atributif
Adjektiva yang merupakan pewatas dalam frasa nominal yang nominalnya menjadi subyek, objek, atau pelengkap dikatakan dipakai secara atributif. Tempatnya di sebelah kanan nomina. Jika pewatas nomina lebih dari satu, rangkaian pewatas itu lazimnya dihubungkan oleh kata yang. Contoh: buku merah, harga mahal, baju putih yang panjang, mobil tua yang murah, baju putih yang panjang dan bersih.
2. Fungsi Predikatif
Adjektiva yang menjalankan fungsi predikat atau pelengkap dalam klausa dikatakan dipakai secara predikatif. Jika subjek atau predikat kalimat berupa frasa atau klausa yang panjang disisipkan kata adalah. Adjektiva dapat disebut frasa adjectival atau inti frasa, dapat diwatasi dengan pemarkah aspektualitas dan pemarkah modalitas yang ditempatkan di sebelah kirinya. Adjektiva dalam frasa adjectival dapat juga diikuti pewatas yang berposisi di seelah kanannya. Contoh: gedung yang baru itu sangat megah, kabar itu membuat mereka gembira, yang disarankannya kepadamu itu (adalah) baik, (adalah) wajar bagi seorang istri jadi cemburu, tidak keras kepala, sakit lagi.
3. Fungsi Adverbial atau Keterangan
Adjektiva yang mewatasi verba (atau adjektiva) yang menjadi predikat klausa dikatakan dipakai secara adverbial atau sebagai keterangan. Pola struktur adverbial itu dua macam: (1) … (dengan) + (se-) + adjektiva + (-nya) yang dapat disertai reduplikasi dan (2) perulangan adjektiva. Contoh: (bekerja) dengan baik, (bekerja) baik-baik, (menjawab) dengan sebenarnya, (menjawab) sebenar-benarnya, terbang tinggi-tinggi, Undi bekerja dengan baik sekali.
ADJEKTIVA DARI SEGI BENTUKNYA
1. Adjektiva Dasar (Monomorfemis)
Contoh: besar, merah, bundar, pura-pura, hati-hati.
2. Adjektiva Turunan
a. Hasil pengafiksan tentang tingkat ekuatif dengan prefiks se-, tingkat superlatif dengan prefiks ter-
b. Hasil pengafiksan dengan infiks atau sisipan –em- pada nomina, adjektiva yang jumlahnya sangat terbatas. Contoh: gemetar, gemuruh, gemerlap, temaram, sinambung.
c. Hasil penyerapan adjektiva berafiks dari bahasa lain seperti bahasa Arab, Belanda, dan Inggris. Contoh: alami, alamiah, insani, aktif , agresif.
5. ADVERBIA
Dalam tataran frasa, Adverbia adalah kata yang menjelaskan verba, adjektiva, atau adverbia lain. Adverbia adalah kategori yang dapat mendampingi adjektiva, numeralia, atau proposisi dalam konstruksi sintaksis. Sekalipun banyak adverbial dapat mendampingi verba dalam konstruksi sintaksis, namun adanya verba itu bukan menjadi ciri adverbia.
Adverbia tidak boleh dikacaukan dengan keterangan, karena adverbia merupakan konsep kategori; sedangkan keterangan merupakan konsep fungsi. Adverbia dapat ditemui dalam bentuk dasar dan bentuk turunan. Bentuk turunan itu terwujud melalui afiksasi, reduplikasi, gabungan proses, gabungan morfem.
Dalam tataran klausa, adverbia mewatasi atau menjelaskan fungsi-fungsi sintaksis. Umumnya kata atau bagian kalimat yang dijelaskan adverbia itu berfungsi sebagai predikat. Contoh:
▪ia sangat mencintai istrinya.
▪Guru saja tidak dapat menjawab pertanyaan itu.
▪Melihat penampilannya, ia pasti seorang guru.
▪Hanya petani yang menanam jagung.
▪Tampaknya dia tidak menyetujui usul itu.
ADVERBIA DARI SEGI BENTUKNYA
1. ADVERBIA TUNGGAL
a. Adverbia yang berupa kata dasar, hanya terdiri atas satu kata dasar. Contoh: baru, hanya, lebih, hamper, saja, sangat.
b. Adverbia yang berupa kata berafiks, diperoleh dengan menambahkan gabungan afiks se—nya atau afiks –nya pada kata dasar. Contoh: sebaiknya, sesungguhnya, agaknya, rupanya, rasanya.
c. Adverbial yang berupa kata ulang
▪Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar. Contoh: diam-diam, lekas-lekas, pela-pelan, tinggi-tinggi, lagi-lagi.
▪Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahan prefiks se-. Contoh: setinggi-tinggi, sepandai-pandai, sebesar-besar, sesabar-sabar, segalak-galak.
▪Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahah sufiks –an. Contoh: hais-habisan, mati-matian, kecil-kecilan, gila-gilaan, gelap-gelapan.
▪Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahan gabungan afiks se—nya. Contoh: setinggi-tingginya, sedalam-dalamnya, seikhlas-ikhlasnya, sekuat-kuatnya, selembut-lembutnya.
2. ADVERBIA GABUNGAN
Adverbia gabungan terdiri atas dua adverbia yang berupa kata dasar.
1. Adverbia yang berdampingan. Contoh: lagi pula, hanya saja, hampir selalu, acapkali.
2. Adverbia yang tidak berdampingan. Contoh: hanya … saja, belum … lagi, hamper … kembali, hanya … kembali, tidak … saja.
ADVERBIA DARI SEGI PERILAKU SINTAKSISNYA
Dapat dilihat berdasarkan posisinya terhadap kata atau bagian kalimat yang dijelaskan oleh adverbial yang bersangkutan.
1. Adverbia yang mendahului kata yang diterangkan:
▪Ia lebih tinggi dari pada adiknya.
▪Telaga itu sangat indah.
▪Pendiriannya terlalu kukuh untuk digoyangkan.
▪Kami hanya menulis apa yang dikatakannya.
2. Adverbia yang mengikuti kata yang diterangkan:
▪Tampan nian kekasih barumu.
▪Kami duduk-duduk saja menunggu pangilan.
▪Jelek benar kelakuannya.
3. Adverbia yang mendahului atau mengikuti kata yang diterangkan:
▪Mahal amat harga barang-barang itu.
▪Paginya ia segera pergi meninggalkan kami.
4. Adverbia yang mendahului dan mengikuti kata yang diterangkan:
▪Saya yakin bukan dia saja yang pandai.
▪Bagiku, senyumnya sangat manis sekali.
ADVERBIA DARI SEGI PERILAKU SEMANTISNYA
1. Adverbia Kualitatif
Menggabarkan maknayang berhubungan dengan tingkat, derajat, atau mutu. Contoh: paling, sangat, lebih, dan kurang.
2. Adverbia Kuantitatif
Menggambarka makna yang berhubungan dengan jumlah. Contoh: banyak, sedikit, kira-kira, dan cukup.
3. Adverbia Limitatif
Menggambaran makna yang berhubungan dengan pembatasan. Contoh: hanya, saja, dan sekedar.
4. Adverbia Frekuentatif
Menggambarkan makna yang berhubungan dengan tingkat kekerapan terjadinya sesuatu yang diterangkan adverbial itu. Contoh: selalu, sering, jaang, dan kadang-kadang.
5. Adverbia Kewaktuan
Menggambarkan makna yang berhubungan dengan saat terjadinya peristiwa yang diterangkan oleh adverbial itu. Contoh: baru dan segera.
6. Adverbia Kecaraan
Menggambarkan makna yang berhubungan dengan bagaimaa peristiwa yang dierangkan oleh adverbial itu berlangsubg atau terjadi. Contoh: diam-diam, secepatnya, pelan-pelan..
7. Adverbia Kontrastif
Menggambarkan perentangan dengan makna kata atau hal yang dinyataka sebelumnya. Contoh: bahkan, malahan, dan justru.
8. Adverbia Keniscayaan
Menggambarkan makna yang berhubungan dengan kepastian tentang keberlangsungan aau terjadinya hal atau peristiwa yang dijelaskan adverbial itu. Contoh: niscaya, pasti, dan tentu.
ADVERBIA KONJUNGTIF
Adverbia konjungtif adalah adverbia yang menghubungkan satu klausa atau kalimat dengan klausa atau kalimat yang lain. Contoh: (akan) teapi, bahkan, bahwasanya, dengan demikian, kecuali itu.
ADVERBIA PEMBUKA WACANA
Adverbia pembuka wacana pada umumnya mengawali suatu wacana. Hubungannya pada paragraf sebelumnya didasarkan pada makna yang terkandung pada paragraf sebelumnya itu. Contoh: adapun, akan hal, alkisah, arkian, dalam pada itu.