TUGAS INDIVIDU DAN
POPULASI II
Dampak Kesehatan Tersembunyi di Balik Bencana Nuklir
Fukushima Daiichi
Oleh:
NAMA
NIM
Jumlah Total Kata: 1.814
kata
FAKULTAS UNIVERSITAS
PROVINSI
20XX
Dampak Kesehatan Tersembunyi di Balik Bencana
Nuklir Fukushima Daiichi
A. Pendahuluan
Esai
ini dikembangkan berdasarkan artikel berita dari situs web environmental health news, ditulis oleh James Watkins dan dipublikasikan pada tanggal 16 April
2018. Judul orisinil artikel tersebut adalah “The Biggest Health Risk After
Fukushima: Diabetes” (artikel lengkap disitasi dari: http://www.ozy.com/acumen/the-biggest-health-risk-after-fukushima-diabetes/85971).
Artikel ini menceritakan bahwa masalah kesehatan yang muncul setelah 6 tahun
kejadian bencana nuklir Fukushima Daiichi kebanyakan tidak berupa penyakit kanker
akibat radiasi, akan tetapi diabetes. Artikel tersebut menyiratkan adanya dominansi
kejadian diabetes secara tidak langsung akibat bencana tersebut dibandingkan
kanker yang seharusnya menjadi dampak langsung bencana tersebut. Oleh karena
itu, permasalahan yang perlu dikembangkan dalam artikel ini adalah adanya
dampak langsung serta tidak langsung bencana nuklir Fukushima Daiichi terhadap
kesehatan masyarakat di zona evakuasi.
Ikhtisar Gempa Bumi, Tsunami Tohoku dan
Bencana Nuklir Fukushima Daiichi
Pada
tanggal 11 Maret 2011 terjadi gempa bumi di lepas pantai Semenanjung Oshika,
pantai timur Tohoku, Jepang. Gempa bumi tersebut berkekuatan 9,0 Mw (skala
kekuatan momen) dan mengakibatkan gelombang tsunami setinggi 10 meter (BBC,
2011). Hal ini menjadikan gempa Tohoku
sebagai satu dari empat gempa terbesar di dunia (Watkins, 2018) sekaligus gempa
terbesar nomor satu di Jepang (BBC, 2011). Berdasarkan laporan dari Japanese
National Police Agency (JNPA), 15.269 orang dinyatakan tewas, 5.363 orang
luka-luka, dan 8.526 orang dinyatakan hilang. Kerugian akibat bencana ini
diperkirakan disebabkan oleh banjir, tanah longsor, kebakaran, kerusakan
bangunan dan infrastruktur, serta bencana nuklir. Dari berbagai macam kerugian
yang disebabkan gempa tersebut, bencana nuklir menjadi salah satu sorotan utama
bagi penduduk dunia.
Salah
satu pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Jepang, Fukushima Daiichi yang
dikelola oleh The Tokyo Electric Power
Company (TEPCO) berada pada jalur tsunami sebagai kelanjutan dari gempa
Tohoku. Tsunami tersebut mengakibatkan kerusakan pada sistem pendingin reaktor
nuklir sehingga terjadi pelepasan material radioaktif ke lingkungan sekitarnya
(Ohira dan Takahashi, 2016). Oleh karena itu, sejumlah 140.000 penduduk yang berada
dalam radius 12 mil (20 kilometer) dari PLTN tersebut terpaksa dievakuasi
karena dikhawatirkan dapat terkena paparan radiasi tersebut. Disamping itu,
seluruh PLTN di Jepang untuk sementara berhenti dioperasikan. Hal ini berhasil
memasukkan insiden Fukushima Daiichi sebagai bencana nuklir paling berarti
kedua setelah Cernobyl dengan kategori tingkat 7 berdasarkan Skala Kejadian
Nuklir Internasional (International
Nuclear and Radiological Event Scale; INES) yang dikeluarkan oleh Badan
Tenaga Atom Internasional (International
Atomic Energy Agency; IAEA) (Reuters, 2011).
B. Analisis dan Dampak dari Masalah
Setelah
tujuh tahun dari peristiwa tersebut, dampak kesehatan yang terjadi pada
penduduk Fukushima ternyata jauh berbeda dari apa yang ditakutkan setiap orang:
penurunan angka harapan hidup masyarakat akibat bencana nuklir Fukushima 6 kali
lipat lebih banyak dipengaruhi oleh meningkatnya kejadian diabetes dibandingkan
dengan kanker oleh paparan radiasi. Sedangkan pada populasi tua, perbandingan
pengaruh diabetes dan kanker pada angka harapan hidup meningkat menjadi 33 kali
lipatnya (Murakami, Tsubokura dan Oikawa, 2017).
Pernyataan
tersebut didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Murakami, Tsubokura dan
Oikawa pada September 2017. Penelitian tersebut menggunakan data check up kesehatan masyarakat 6 tahun
terakhir dari penduduk dua kota terdekat dari lokasi kejadian, Minamisoma
dan Soma. Penelitian tersebut mengungkap
adanya penurunan angka harapan hidup dengan jumlah yang sangat sedikit, yaitu
0,04 tahun akibat diabetes dan 0,007 tahun akibat radiasi. Meskipun jumlah
tersebut dapat dipandang rendah, akan tetapi selisih yang cukup jauh antara
keduanya menjadi landasan peneliti untuk menyimpulkan fakta bahwa efek negatif
akibat radiasi terhitung kecil (Murakami, Tsubokura dan Oikawa, 2017).
Namun
sebaliknya, penelitian meta analisis yang dilakukan oleh U. N. Agency of Dozens of Studies menemukan tidak adanya efek
kesehatan yang serius akibat paparan radiasi bencana nuklir Fukushima Daiichi
serta masalah tersebut kedepannya diperkirakan tidak akan muncul (Watkins,
2018).
Meskipun,
fakta-fakta di atas terkesan bertolak belakang, kedua pernyataan diatas dapat
dibenarkan karena lebih lanjut dijelaskan bahwa masalah-masalah kesehatan yang
timbul akibat bencana nuklir Fukushima Daiichi merupakan dampak tidak langsung dari
bencana tersebut (Watkins, 2018). Selanjutnya disini akan dipaparkan rincian masalah kesehatan tidak langsung dan langsung
bencana nuklir Fukushima Daiichi secara satu-persatu.
Masalah Kesehatan Tidak Langsung
Masalah-masalah
kesehatan tidak langsung ini sebenarnya berawal dari masalah utama (yaitu
bencana nuklir Fukushima Daiichi) yang mengakibatkan disrupsi sosial akibat proses
evakuasi. Disrupsi sosial ini kemudian mengarah
pada masalah kesehatan sekunder berupa peningkatan laju dan keparahan penyakit
seperti diabetes, tekanan darah tinggi, obesitas dan depresi. Hal ini juga
menjelaskan mengapa masalah-masalah kesehatan tersebut tertutupi dengan masalah
akibat gangguan gaya hidup lain di populasi umum. Ditambah lagi aspek sosial
sangat memperngaruhi kesehatan manusia dalam hubungan antara kesehatan fisik
dengan mental (Watkins, 2018).
Sebagai
contoh, populasi kota Minamisoma turun dari 70.000 jiwa menjadi 8.000 jiwa
akibat bencana tersebut, dan baru kembali menjadi lebih dari 50.000 setelah
masa pemulihan. Sayangnya, korban bencana yang masih tersisa kebanyakan berasal
dari penduduk golongan tua yang terpisah dari keluarga, kehilangan pekerjaan
dan gangguan komunitas sehingga mengarah pada menyebarnya isolasi sosial.
Selain itu, kebanyakan pengungsi masih tinggal di pemukiman sementara.
(Watkins, 2018) Penelitian lainnya menyatakan bahwa melakukan evakuasi paksa
darurat dinilai lebih berbahaya pada populasi rentan seperti golongan tua,
terlebih lagi kondisi seperti suhu dingin, tidak adekuatnya akomodasi serta
akses makanan dan obat yang masih tidak jelas. Hal tersebut diperkuat dengan
kenyataan bahwa 25% dari penduduk usia tua meninggal dalam jangka waktu 90 hari
sejak evakuasi (Watkins, 2018).
Adanya
dampak tidak langsung terhadap kesehatan tersbut juga didukung oleh penelitian
yang dilakukan Yabe dkk tahun 2014. Penelitian tersebut didasarkan pada survey
kesehatan mental dan gaya hidup. Tujuannya adalah untuk memfasilitasi pelayanan
adekuat bagi penduduk yang berisiko tinggi memunculkan masalah kesehatan mental
setelah kecelakaan tersebut. Responden ditargetkan pada penduduk di wilayah
evakuasi diantara lain: kota Hirono, Naraha, Tomioka, Desa Kawauchi, Kota
Okuma, Futaba, Namie, Desa Katsurao, Kota Minamisoma, Tamura, Dsitrik Yamakiya
dari Kota Kawamata dan Desa Iitate. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa gempa
bumi, tsunami, diikuti dengan bencana nuklir menyebabkan distres psikologis
pada penduduk Fukushima. Distres psikologis tersebut berupa masalah kesehatan
mental berat, gejala traumatik termasuk masalah traumatik berat, serta penyakit
mental berat pada populasi anak (Yabe et
al, 2014).
Walaupun
pada hakikatnya kebanyakan studi memfokuskan pada dampak bencana nuklir
Fukushima Daiichi terhadap penduduk sekitarnya, bencana tersebut juga
sebenarnya memberikan pengaruh terhadap warga Jepang pada umumnya. Penelitian
yang dipublikasi Takebayashii dkk tahun 2017 mengungkapkan bahwa terdapat juga
kecemasan terhadap radiasi diantar penduduk yang tinggal Jepang setelah
kecelakan tahun 2011 tersebut. Walaupun dari tahun 2012 hingga 2015 tingkat
kecemasan terhadap radiasi ini cenderung mengalami penurunan. Kecemasan diduga
disebabkan oleh faktor demografis, stressor terkait bencana, informasi
terpercaya, dan variabel lain terkait radiasi. Sedangkan, efek dari kecemasan
ini berupa distres berat sampai keinginan untuk berhenti berkerja atau tidak
pulang ke rumah (Takebayashi et al,
2017).
Dampak
pada kesehatan mental anak-anak yang berada di zona evakuasi juga terlihat.
Dipaparkan oleh Itagaki dkk tahun 2017 bahwa keterbatasan anak-anak dalam
beraktivitas di luar ruangan meningkatkan risiko anak-anak untuk memiliki
permasalahan mental. Pemaparan tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan anak-anak
dalam bermain memengaruhi keadaan psikis mereka dan bahwa bencana nuklir
Fukushima Daiichi telah memberikan dampak tidak langsung pada aspek tersebut
(Itagaki et al, 2017).
Masalah Kesehatan Langsung
Kebanyakan
penelitian-penelitian yang mengikuti atau menjadi bagian dari Fukushima Health Management Survey
menunjukkan dampak radiasi eksternal terhadap kesehatan masyarakat sekitar
Fukushima terhitung kecil. Anggapan tersebut didasarkan oleh statement-statement berikut:
Pertama,
suatu penelitian membandingkan prevalensi kanker tiroid pada anak usia ≤18
tahun selama 4 tahun pertama sejak kejadian dan dilakukan pada tiga wilayah
yang dikelompokkan berdasarkan dosis radiasi eksternalnya. Ketiga wilayah yang
dimaksud antara lain: area dengan dosis tertinggi, area dosis menengah dan area
dosis terendah. Hasilnya didapatkan bahwa prevalensi kejadian kanker tiroid
pada anak selama 4 tahun terakhir di area dengan dosis tertinggi sebesar
48/100.000, area dosis menengah 36/100.000, dan 41/100.000 untuk area dengan
dosis terendah. Dengan data tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa tidak ada
hubungan yang signifikan antara paparan dosis eksternal radiasi tersebut dengan
prevalensi kanker tiroid pada anak di wilayah tersebut (Ohira dan Takahashi,
2016).
Kedua, penelitian
yang dipublikasi oleh Yasuda dkk tahun 2017 juga menunjukan hasil yang sama.
Penelitian tersebut membandingkan prevalensi bayi lahir kecil untuk masa
kehamilan (small for gestational age biasa
disingkat SGA) pada populasi ibu yang sedang hamil di waktu kejadian, antara
area Hamadori dan area di luar Hamadori. Hamadori merupakan wilayah pesisir
pantai yang dekat dengan lokasi kejadian. Akan tetapi, data hasil penelitian
tersebut menunjukkan baik itu area maupun trimester kehamilan saat bencana nuklir
terjadi tidak memengaruhi kejadian dari SGA. Sehingga disimpulkan bahwa gempa
bumi Tohoku begitu juga bencana nuklir Fukushima Daiichi tidak meningkatkan
insidens SGA pada wilayah Fukushima (Yasuda et
al, 2017)
C. Populasi Terdampak
Para
pengungsi dari wilayah Fukushima, populasi ini terdiri dari berbagai kelompok
umur, dan dengan kondisi terpaksa untuk pindah tempat tinggal, merubah gaya
hidup, makanan, olahraga, dan kebiasaan pribadi lainnya. Ada juga yang terpaksa
mengubah pekerjaan mereka, dan beberapa tidak menerima pemeriksaan kesehatan
adekuat dan cemas atas kondisi kesehatan mereka (Yasumura et al, 2017).
D. Pihak yang Bertanggung Jawab
The
Tokyo Electric Power Company (TEPCO) dikarenakan institusi tersebut yang
bertanggung jawab untuk mengelola pembangkit listrik tenaga nuklir di Jepang.
TEPCO dianggap gagal memenuhi persyaratan keselamatan dasar seperti penilaian
risiko, persiapan akan kerusakan bangunan dan pengembangan rencana evakuasi.
TEPCO telah berusaha membuat dinding es beku untuk mencegah bercampurnya air
tanah dengan kontaminan radioaktif, akan tetapi cara tersebut ternyata gagal. Selain
itu, dikatakan bahwa proses pembersihan sisa radioaktif dari bencana nuklir
tersebut akan bisa selesai setelah 40 tahun.
E. Solusi Potensial dan Key Stakeholder
yang Terlibat
Perbaikan Kesehatan Mental dan Fisik
Solusi
yang diberikan untuk memperbaiki tingkat kesehatan mental masyarakat adalah
dengan terus melakukan pengawasan atas kesehatan mental dengan melakukan survey
berkelanjutan. Selain itu diperlukan juga program pelayanan kesehatan mental (mental care program) untuk meningkatkan
kesehatan masyarakat akibat bencana tersebut.
Mental
Health Support team telah dibentuknya atas dasar
kekhawatiran terhadap masalah kesehatan mental yang melanda pengungsi. Tim ini
terdiri dari psikolog, perawat kesehatan masyarakat (public health nurses) dan profesional lainnya. Mereka
menyediakan dukungan via telefon bagi masyarakat yang membutuhkan konseling
atau bantuan untuk masalah kesehatan mental atau pun masalah gaya hidup
(Yasumura, et al, 2017).
Sejak onset
terjadinya bencana, pemerintah Perfektur Fukushima telah mengadakan
survey penanganan kesehatan Fukushima (Fukushima
Health Management Survey), yang dilakukan oleh Universitas Kedokteran
Fukushima (Fukushima Medical University)
(Yasumura, et al, 2017). Kegiatan ini
penulis nilai efektif untuk mempertahankan kondisi kesehatan mental karena
kegiatan survey diikuti dengan pengecekan kesehatan rutin, dan dengan adanya
kegiatan ini, masyarakat pengungsi akan merasa lebih diperhatikan oleh pemerintah.
Perbaikan Kondisi Perumahan
Faktor
pemicu seperti korban yang harus hidup terpisah dan berulang-ulang kali pindah
perumahan, merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan, oleh sebab itu
perlunya dibangun perumahan tetap bagi pengungsi.
Dinas Tata
Ruang pemerintah Jepang juga seharusnya menyediakan ruang
bermain yang cukup untuk anak-anak di wilayah pengungsian. Tujuannya agar
perkembangan mental anak-anak tidak terganggu akibat adanya batasan dalam
bergerak. Selain itu, pentingnya juga diadakan program olahraga rutin untuk
anak-anak di wilayah pengungsian agar setidaknya membantu meningkatkan kondisi
psikologis anak-anak tersebut (Itagaki, et
al, 2017).
F. Hambatan dalam Implementasi
-
Keterbatasan biaya untuk melaksanakan
program-program seperti pemeriksaan kesehatan, olahraga anak-anak, pembangunan
sarana seperti tempat bermain anak-anak, serta untuk melakukan penelitian
berkelanjutan yang tentunya memerlukan dana yang tidak sedikit.
-
Dukungan politik dari pemerintah
Jepang, dikarenakan pemulihan akibat bencana nuklir ini tidak dapat dilakukan
dalam waktu sebentar, tentunya sangat dibutuhkan adanya sokongan berbagai
kegiatan oleh pemerintahan Jepang.
G. Kesimpulan
Dampak
kesehatan dari bencana nuklir Fukushima Daiici tidak dapat dianggap sebagai suatu
kejadian tunggal sederhana, akan tetapi perlu dipertimbangkan sebagai suatu
kejadian yang memiliki dampak sangat kompleks. Hal ini disebabkan masalah
kesehatan yang paling mencolok merupakan
dampak tidak langsung dari kejadian tersebut. Tidak adanya dampak langsung
radiasi berupa kanker tiroid, bayi lahir kecil terhadap kehamilan tidak membuat
pemerintah Jepang lega, disebabkan beban kesehatan yang timbul berupa
peningkatan jumlah dan keparahan penyakit diabetes, tekanan darah, tinggi,
obesitas, disertai penyakit jiwa seperti depresi dan kecemasan pada lansia dan
anak-anak justru muncul secara tidak langsung akibat proses evakuasi dan
perubahan gaya hidup masyarakat di area pengungsian tersebut. Tentunya sangat
diperlukan peranan dari pemegang kekuasaan, TEPCO dan profesi dari berbagai
bidang (dokter, psikolog, arsitek) dalam membantu mengatasi permasalahan
kesehatan terselubung bencana nuklir Fukushima Daiichi.
Referensi
BBC, 2011. Japan Earthquake: Tsunami
hits north east. BBC News, [online]
11 Maret. Available at:
<http://www.bbc.com/news/world-asia-pacific-12709598> [Accessed 19 Juni
2018]
Watkins, J., 2018. The biggest health
risk after fukushima: diabetes. The Daily
Dose, [online] 16 April. Available at:
<http://www.ozy.com/acumen/the-biggest-health-risk-after-fukushima-diabetes/85971>
[Accessed 19 Juni 2018]
Reuters, T., 2011. Analysis: A month
on, Japan nuclear crisis still scarring.
International Bussiness Times [online] 9 April. Available at:
<http://www.ibtimes.co.in/articles/132391/20110409/japan-nuclear-crisis-radiation.htm>
[Accessed 19 Juni 2018]
Murakami, M., Tsubokura, M., dan
Oikawa, T., 2017. Additional risk of diabetes exceeds the increased risk of
cancer caused by radiation exposure after Fukushima disaster, Public Library of Science, [online]
Available at: <http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5619752/>
[Accessed 19 Juni 2018]
Ohira, T. and Takahashi, H., 2016.
Comparison of childhood thyroid cancer prevalence among 3 areas based on
external radiation dose after the Fukushima Daiichi nuclear power plant
accident, The Fukushima health management
survey, [online]. Available at: <http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5008539/>
[Accessed 20 Juni 2018]
Yasuda, S., et al, 2017. Influense of the Great East Japan Earthquake and the
Fukushima Daiichi nuclear disaster on the birth weight of newborns in Fukushima
Prefecture: Fukushima Health Management Survey, The Journal of Maternal-Fetal & Neonatal Medicine, [online],
Abstract only. Available at:
<http://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/27718768/> [Accessed 20 Juni 2018]
Yabe, H., et al, 2014. Psychological distress after the Great East Japan
Earthquake and Fukushima Daiichi Nuclear Power Plant accident: results of a
mental health and lifestyle survey through the Fukushima Health Management
Survey in FY2011 and FY 2012, Fukushima
Journal of Medical Science, [online], Abstract only. Available at:
<http://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/25030715/> [Accessed 20 Juni 2018]
Takebayashi, Y., et al, 2017. Risk Perception and Anxiety Regarding Radiation after
the 2011 Fukushima Nuclear Power Plant Accident: A Systematic Qualitative
Review, International Journal of
Environmental Research and Public Health, [online], Abstract only.
Available at: <http://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/29077045/> [Accessed
20 Juni 2018]
Yasumura, S., et al, 2017. Fukushima Health Management Survey and Related Issues,
Asia Pacific Journal of Public Health, [online],
Abstract only. Available at: <http://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/28330397/>
[Accessed 20 Juni 2018]
Itagaki, S., et al, 2017. Exercise Habits Are Important for the Mental Health of
Children in Fukushima After the Fukushima Daiichi Disaster: The Fukushima
Health Management Survey, Asia Pacific
Journal of Public Health, [pdf]. Available at:
<http://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/28330393/> [Accessed 20 Juni 2018]